Diburu Jutaan Wisatawan, Bandung Selatan Butuh Dukungan Infrastruktur yang Lebih Kuat
Sabtu, 30 Mei 2026 19:00
Reporter : Tim Digo.id
DigoID – Pesona Bandung Selatan terus memikat jutaan wisatawan. Namun di balik lonjakan kunjungan yang menembus angka fantastis, tersimpan persoalan serius yang berulang setiap musim liburan, kemacetan parah hingga perjalanan bisa memakan waktu 10 jam.
Kondisi ini membuat Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iswara, angkat suara. Ia menilai infrastruktur jalan kini menjadi titik paling krusial yang menentukan masa depan pariwisata Bandung Selatan. Tanpa perbaikan akses, ledakan wisatawan justru bisa berubah menjadi bumerang.
“Bandung Selatan ini sudah sangat luar biasa. Kita ada Ciwidey, ada Pangalengan, ada Gunung Puntang. Yang kurang itu kan infrastrukturnya,” kata Iswara di Bandung, Kamis.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Data menunjukkan kunjungan wisatawan ke Bandung Selatan melonjak drastis dari sekitar 2 juta orang pada 2020 menjadi sekitar 7 juta wisatawan pada 2024. Angka tersebut menegaskan kawasan Ciwidey, Pangalengan, dan Gunung Puntang kini menjadi magnet utama wisata Jawa Barat.
Namun, derasnya arus wisatawan belum diimbangi kapasitas jalan yang memadai. Jalur Soreang-Ciwidey yang menjadi urat nadi akses wisata kerap lumpuh saat akhir pekan dan libur panjang.
Iswara bahkan mengungkapkan perjalanan menuju kawasan wisata tersebut bisa menghabiskan waktu hingga 10 jam saat puncak liburan. Situasi yang dinilai tidak masuk akal untuk destinasi unggulan yang menjadi andalan ekonomi daerah.
“Kita bisa melihat sendiri, saat libur perjalanan menuju kawasan ini bisa memakan waktu hingga 10 jam. Karena itu, kami sudah berbicara dengan pemerintah mengenai rencana pembangunan jalan tol dari Soreang menuju Ciwidey,” tegasnya.
Besarnya tekanan lalu lintas terlihat dari data Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung. Pada periode libur Lebaran 2026, jumlah kendaraan yang melintas menuju kawasan wisata Bandung Selatan mencapai 104.600 kendaraan hanya dalam satu hari pemantauan. Bahkan pada puncak arus wisata, akumulasi kendaraan yang masuk ke kawasan Ciwidey dan Pangalengan menembus 223.721 kendaraan dalam beberapa hari masa libur.
Lonjakan kendaraan itu menjadi alarm keras bahwa kapasitas jalan eksisting mulai kewalahan menghadapi ledakan wisatawan.
Menurut Iswara, pembangunan jalan tol maupun pelebaran jalan provinsi bukan hanya soal mengurai kemacetan. Infrastruktur yang kuat akan membuka peluang ekonomi yang jauh lebih besar bagi masyarakat, mulai dari sektor UMKM, transportasi, hingga akomodasi wisata.
Ia juga menyoroti potensi besar Bandung Selatan yang terhubung dengan kawasan wisata Garut dan Tasikmalaya. Jika konektivitas diperkuat, wilayah selatan Jawa Barat berpeluang menjadi koridor wisata regional yang mampu bersaing dengan destinasi unggulan lainnya di Indonesia.
“Jalan-jalan sudah semakin mantap, mulus, dan infrastruktur dasar sudah baik. Tinggal bagaimana kita memberdayakan seluruh kawasan tersebut untuk pengembangan pariwisata,” ujarnya.
Dengan jutaan wisatawan yang terus berdatangan setiap tahun, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Bandung Selatan layak menjadi destinasi unggulan, melainkan seberapa cepat pemerintah mampu membangun akses yang memadai sebelum kemacetan panjang menggerus kenyamanan wisata dan potensi ekonomi yang mengalir dari sektor tersebut.
