Dua Pelajar SMP Hilang di Kedalaman Citarum Lama, Pencarian Menegangkan Berakhir Duka
Sabtu, 30 Mei 2026 10:00
Reporter : Tim Digo.id
DigoID — Sore yang awalnya dipenuhi canda empat sahabat berubah menjadi tragedi yang menyayat hati. Dua pelajar SMP, W (13) dan D (14), hilang di kedalaman Sungai Citarum Lama, Kampung Bedas, Desa Tegaluar, Kecamatan Bojongsoang, Jumat (29/5/2026).
Jeritan minta tolong memecah ketenangan sore itu. Warga yang berada di sekitar sungai berlarian menuju lokasi ketika mengetahui dua anak tenggelam dan tak lagi muncul ke permukaan. Dalam hitungan menit, suasana berubah mencekam. Orang tua, warga, hingga aparat setempat berkumpul di tepi sungai, berharap keajaiban datang.
Laporan kejadian diterima petugas Rescue Disdamkar Kabupaten Bandung pada pukul 16.12 WIB. Tanpa menunggu lama, tim langsung bergerak menuju lokasi.
"Kami menerima laporan jam 16.12 WIB dan langsung meluncur ke TKP," kata Anggota Rescue Disdamkar Kabupaten Bandung, Wawan Gunawan.
Saat petugas tiba, puluhan warga sudah lebih dulu melakukan upaya pencarian. Dengan peralatan seadanya, mereka menyisir permukaan sungai menggunakan perahu dan bambu, mencoba menemukan jejak dua pelajar yang hilang ditelan air.
Harapan dan kecemasan bercampur di wajah keluarga yang menunggu di tepian sungai. Setiap kali ada gelembung atau riak air, perhatian warga langsung tertuju ke titik tersebut.
Tim gabungan dari Disdamkar, Basarnas, BPBD Kabupaten Bandung, TNI, Polri, pemerintah desa, hingga warga setempat kemudian membentuk pencarian terpadu. Mereka menyisir area yang diduga menjadi lokasi tenggelamnya korban.
Upaya penyelamatan berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Sungai Citarum Lama di lokasi kejadian memiliki kedalaman bervariasi antara empat hingga delapan meter.
"Kondisi sungainya cukup dalam, sekitar 4 sampai 8 meter," ujar Wawan.
Berdasarkan keterangan saksi, sebelum tragedi terjadi empat anak diketahui berenang bersama. Dua di antaranya, Tasya dan Tegar, berhasil mencapai tepian sungai. Namun nasib berbeda dialami W dan D.
Keduanya diduga kehabisan tenaga saat berusaha melawan arus dan berenang menuju daratan. Dalam hitungan detik, mereka menghilang dari pandangan teman-temannya.
"Informasinya ada empat anak yang berenang. Dua berhasil ke tepi, sedangkan W dan D kemungkinan sudah kehabisan tenaga sehingga tidak bisa sampai ke daratan," ungkap Wawan.
Waktu terus berjalan. Menit demi menit terasa begitu panjang bagi keluarga yang menanti kabar. Hingga akhirnya, sekitar pukul 17.00 WIB, tim menemukan tubuh W tidak jauh dari lokasi awal tenggelam.
Namun suasana haru berubah menjadi tangis pecah ketika korban dipastikan sudah tidak bernyawa.
Belum selesai duka itu, tim kembali melanjutkan pencarian. Dua puluh menit kemudian, sekitar pukul 17.20 WIB, D juga ditemukan di lokasi yang tak jauh dari rekannya.
Penemuan korban kedua mengakhiri operasi pencarian, namun sekaligus mengubur harapan keluarga untuk melihat keduanya pulang dengan selamat.
"Kedua korban sempat dibawa ke RS Bedas Tegalluar untuk memastikan kondisi korban, kemudian dibawa ke rumah duka masing-masing," kata Wawan.
Ironisnya, menurut informasi yang dihimpun petugas, W dan D bukan anak yang asing dengan sungai tersebut. Keduanya dikenal mampu berenang dan kerap menghabiskan waktu bersama teman-temannya di lokasi yang sama.
Namun sore itu, kemampuan berenang ternyata tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari ganasnya kedalaman Sungai Citarum Lama.
Di tepi sungai yang mulai gelap, isak tangis keluarga mengiringi proses evakuasi. Tragedi yang terjadi hanya dalam hitungan menit itu kini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, teman sekolah, dan warga Tegaluar yang menyaksikan langsung proses pencarian hingga senja berganti malam.
