Tangis Haru Pecah di Jeddah, Jemaah Haji Indonesia Mulai Pulang: Menteri Warning Maskapai, Jangan Sampai Delay Berganti Hari!
Rabu, 03 Juni 2026 08:30
Reporter : Tim Digo.id
DigoID – Setelah sekitar 40 hari menjalani rangkaian ibadah yang menguras fisik dan emosi di Tanah Suci, ribuan jemaah haji Indonesia akhirnya mulai kembali ke tanah air. Namun di balik suasana haru kepulangan, pemerintah mengeluarkan peringatan keras kepada maskapai penerbangan agar tak mengulangi persoalan keterlambatan yang pernah membuat jemaah terlantar hingga pergantian hari.
Pelepasan kloter pertama jemaah haji Indonesia dilakukan langsung oleh Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (31/5/2026) malam waktu setempat. Momentum ini menandai dimulainya gelombang besar kepulangan lebih dari 221 ribu jemaah Indonesia dari Arab Saudi.
Kloter perdana yang diberangkatkan berasal dari Kabupaten Probolinggo, Debarkasi Surabaya (SUB) Kloter 1, menggunakan Saudia Airlines pada Senin (1/6/2026) pukul 03.00 waktu Arab Saudi. Disusul jemaah Embarkasi Ujungpandang (UPG) Kloter 1 asal Makassar yang terbang dengan Garuda Indonesia pukul 03.30 WAS.
Untuk jemaah Jawa Barat, Kloter 1 JKS asal Kota Bekasi dijadwalkan tiba di Indonesia pada Senin (1/6/2026) pukul 23.40 WIB, sementara Kloter 1 KJT dijadwalkan mendarat pada Selasa (2/6/2026) pukul 06.15 WIB.
Dalam sambutannya, Gus Irfan menegaskan bahwa fase kepulangan menjadi ujian terakhir penyelenggaraan haji tahun ini. Karena itu, ia meminta maskapai menjaga On Time Performance (OTP) secara ketat.
"Saya berpesan kepada Saudia Airlines dan Garuda Indonesia untuk menjaga on time performance. Jangan ada keterlambatan yang tidak perlu, apalagi sampai delay berganti hari seperti yang pernah terjadi sebelumnya," tegasnya.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Keterlambatan penerbangan pada musim haji sebelumnya sempat memicu keluhan jemaah karena harus menunggu berjam-jam di bandara setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah.
Meski demikian, Menteri Haji dan Umrah RI mengaku menerima banyak respons positif terkait layanan haji 2026. Ia menyebut pemerintah berupaya maksimal menjalankan amanat Presiden untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu Allah.
"Alhamdulillah jemaah senang dan bergembira dengan pelayanan Kemenhaj. Kami ditugaskan Presiden untuk memberikan pelayanan terbaik dan kami berupaya sekuat tenaga mewujudkannya," ujarnya.
Namun di tengah apresiasi tersebut, Gus Irfan secara terbuka mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan yang menjadi catatan serius. Mulai dari keterlambatan layanan, kualitas fasilitas penginapan, hingga kondisi tenda di Mina yang dinilai masih terlalu padat.
"Mungkin ada layanan yang terlambat, kasur yang kurang empuk, atau tenda yang terlalu sesak. Semua itu bagian dari kekurangan kami. Kami memohon maaf sebesar-besarnya," katanya.
Di sisi lain, terdapat kabar yang cukup menggembirakan dari sektor kesehatan. Hingga 31 Mei 2026, jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat tercatat 134 orang, turun hampir 50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 267 orang.
Meski angka tersebut menunjukkan perbaikan signifikan, pemerintah belum sepenuhnya puas. Gus Irfan mengungkapkan dua sektor yang masih menjadi pekerjaan rumah besar menjelang musim haji tahun depan, yakni layanan kesehatan dan pelayanan di Mina.
"Di Mina diakui masih banyak kekurangan dan insyaallah akan kami kejar tahun depan. Untuk kesehatan, meski angka kematian berhasil ditekan, hasilnya belum memuaskan. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi," ujarnya.
Sementara itu, terkait penyelenggaraan haji 2027, pemerintah mulai bergerak lebih awal. Berdasarkan komunikasi dengan otoritas Arab Saudi, Indonesia diminta bersiap dengan asumsi kuota yang sama seperti tahun ini, yakni 221.000 jemaah.
Belum ada keputusan resmi mengenai penambahan atau pengurangan kuota. Namun sinyal tersebut menjadi pegangan awal bagi pemerintah untuk menyusun strategi pelayanan yang lebih baik.
