Jutaan Langkah Menuju Arafah Dimulai, Jamaah Haji Indonesia Masuki Fase Paling Menegangkan di Tengah Cuaca Ekstrem
Senin, 25 Mei 2026 12:12
Reporter : Tim Digo.id
DigoID - Detik-detik paling menentukan dalam ibadah haji akhirnya dimulai. Ribuan jamaah haji Indonesia sejak Senin (25/5/2026) bergerak bertahap dari hotel menuju Arafah untuk menjalani puncak ibadah haji atau fase Armuzna — rangkaian yang kerap disebut sebagai “ujian fisik dan mental paling berat” bagi para tamu Allah.
Di tengah suhu panas yang menyengat dan kepadatan jutaan manusia dari seluruh dunia, pemerintah mengeluarkan peringatan serius: jamaah diminta disiplin penuh, tidak bergerak sendiri, dan menjaga kondisi tubuh agar tidak tumbang sebelum wukuf.
“Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional haji, jamaah mulai bergerak menuju Arafah. Ini fase penting yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kedisiplinan,” kata Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Ulfa Assegaf, dalam keterangannya di Jakarta.
Pergerakan jamaah dilakukan dalam tiga gelombang besar, yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Skema ini diterapkan untuk menghindari penumpukan ekstrem yang berpotensi memicu kekacauan di jalur menuju Arafah.
Petugas mengingatkan jamaah agar tidak nekat berangkat sendiri atau keluar dari rombongan. Sedikit saja salah langkah di tengah lautan manusia dan suhu panas gurun bisa berujung fatal.
“Kami meminta jamaah mematuhi arahan petugas kloter dan sektor agar perjalanan berjalan tertib dan aman,” tegas Maria.
Tak hanya soal perjalanan, perhatian besar juga diarahkan pada kondisi fisik jamaah. Cuaca panas Arab Saudi yang bisa menembus di atas 40 derajat Celsius menjadi ancaman nyata, terutama bagi jamaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
Jamaah diminta memperbanyak minum, mengurangi aktivitas yang tidak penting, serta wajib membawa perlengkapan pelindung seperti payung, masker, dan alas kaki nyaman. Bagi jamaah dengan riwayat penyakit, obat pribadi diwajibkan selalu melekat selama fase Armuzna berlangsung.
“Gunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman. Bagi jamaah dengan riwayat penyakit, obat pribadi harus selalu dibawa,” ujarnya.
Pemerintah juga memberi alarm dini bagi jamaah yang mulai mengalami gejala kelelahan. Keluhan seperti lemas, pusing, hingga sesak napas diminta tidak dianggap sepele karena kondisi di lapangan bisa memburuk dalam hitungan menit.
Dua Pos Kesehatan Indonesia kini disiagakan penuh di Arafah dan Mina untuk mengantisipasi kondisi darurat. Sementara itu, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah diterjunkan untuk mengawal seluruh layanan jamaah, mulai dari transportasi, konsumsi, hingga bimbingan ibadah.
Di balik kekhusyukan ibadah, fase Armuzna memang menjadi momen paling krusial dalam pelaksanaan haji. Jutaan manusia bergerak bersamaan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Karena itu, solidaritas antarsesama jamaah menjadi kunci utama.
“Jika ada jamaah yang kebingungan atau kelelahan, segera bantu dan laporkan kepada petugas,” kata Maria.
Kini, jutaan doa mulai mengalir dari Padang Arafah. Di tempat inilah air mata, harapan, dan penyesalan bertemu dalam satu momentum spiritual terbesar umat Islam.
