Bocah-bocah Dayeuhkolot Ubah Banjir Jadi “Waterpark”: Dorong Motor Mogok demi Recehan di Tengah Lumpur Citarum
Selasa, 26 Mei 2026 13:21
Reporter : Tim Digo.id
DigoID — Ketika banjir kembali menenggelamkan Jalan Raya Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa (26/5/2026), yang paling mengejutkan justru bukan air setingi pinggang orang dewasa itu. Bukan pula kendaraan yang mati satu per satu di tengah genangan cokelat.
Yang paling menampar mata adalah pemandangan anak-anak kecil berenang sambil tertawa di tengah banjir yang bagi warga lain terasa seperti bencana tanpa akhir.
Di banyak kota, anak usia sembilan tahun mungkin sedang duduk di kelas, menghafal perkalian atau sibuk bermain gim di rumah. Namun di Dayeuhkolot, bocah-bocah justru menjadikan jalan raya yang lumpuh sebagai “kolam renang” dadakan.
Jalan utama yang biasanya dipenuhi kendaraan kini berubah menjadi lautan cokelat. Air keruh bercampur lumpur, sampah, dan limbah meluap dari Sungai Citarum, menutup hampir seluruh badan jalan. Klakson kendaraan bersahutan. Mesin motor berguguran. Kemacetan mengular panjang.
Di tengah kekacauan itu, sekelompok bocah tampak paling menikmati keadaan.
Mereka berenang melawan arus kecil banjir, saling ciprat air, lalu berlari menghampiri sepeda motor yang mogok di tengah genangan. Dengan kaki telanjang dan tubuh kecil, mereka mendorong kendaraan satu per satu melewati banjir.
Imbalannya tak besar, kadang Rp2 ribu, kadang Rp5 ribu, kadang hanya ucapan terima kasih.
Namun di tengah sekolah yang terendam dan aktivitas yang lumpuh, recehan itu kini berubah menjadi “penghasilan harian” mereka.
“Sekolah online lagi. Sekolahnya kebanjiran,” kata Azka (9), siswa SDN 03 Leuwi Bandung Dayeuhkolot sambil terkekeh setelah membantu mendorong motor mogok.
Wajah bocah itu dipenuhi cipratan air cokelat. Celana pendeknya nyaris tak terlihat warna aslinya karena lumpur. Tetapi tak tampak rasa takut di matanya.
“Kalau di rumah bosan. Mending main di sini. Kadang dapat uang juga bantu dorong motor,” ujarnya polos.
Di belakang Azka, anak-anak lain justru bersorak tiap kali ada kendaraan mogok mendekat. Bukan karena kasihan, melainkan karena itu berarti peluang uang receh kembali datang.
Pemandangan itu terasa seperti ironi yang hidup di depan mata.
Ketika anak-anak di kota lain mengeluhkan kolam renang tutup atau taman bermain sepi, bocah-bocah Dayeuhkolot justru mendapat “waterpark gratis” kiriman banjir tahunan.
Tak ada pelampung. Tak ada air bersih. Tak ada jaminan kesehatan.
Yang ada hanya air keruh bercampur lumpur dan sampah yang mereka arungi tanpa rasa takut.
Bagi warga Dayeuhkolot, banjir memang bukan lagi kejadian luar biasa. Genangan yang datang hampir setiap tahun perlahan mengubah rasa cemas menjadi kebiasaan. Rumah terendam, sekolah diliburkan, aktivitas lumpuh, semuanya seperti siklus yang terus berulang tanpa akhir jelas.
Dan di tengah situasi itu, anak-anak tumbuh dengan cara bertahan hidup versi mereka sendiri. Mereka bermain di atas bencana.
Di pinggir jalan, beberapa orang dewasa hanya bisa menggeleng melihat tingkah bocah-bocah tersebut. Ada yang berteriak melarang. Ada pula yang memilih diam karena sadar larangan sering kalah oleh keadaan.
Sebab saat banjir terus datang dari tahun ke tahun tanpa solusi nyata, warga perlahan dipaksa berdamai dengan situasi yang seharusnya tidak pernah dianggap normal.
Sementara rapat demi rapat dan janji penanganan terus dibicarakan, anak-anak Dayeuhkolot sudah lebih dulu belajar satu hal yang paling keras: bertahan hidup di tengah genangan.
Mereka bukan sedang liburan, mereka sedang bermain di atas masalah yang terlalu lama dibiarkan biasa.
