Dayeuhkolot Lumpuh Lagi! Ribuan Warga Terkepung Banjir, Jalan Utama Tenggelam hingga Pengungsi Mulai Sakit
Selasa, 26 Mei 2026 12:51
Reporter : Tim Digo.id
DigoID — Banjir kembali menghantam Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, dan kali ini dampaknya benar-benar melumpuhkan aktivitas warga. Hingga Selasa pagi (26/5/2026), air masih mengepung puluhan permukiman setelah Sungai Citarum, Cipalasari, dan Cigede meluap akibat hujan deras yang mengguyur Bandung Raya sejak akhir pekan lalu.
Ribuan warga kini hidup di tengah genangan, akses jalan terputus, kendaraan nyaris tak bisa bergerak, sementara para pengungsi mulai jatuh sakit di tempat penampungan darurat.
Titik banjir paling parah terjadi di Kampung Cibedug Hilir RW 01, Desa Cangkuang Wetan. Di kawasan ini, tinggi muka air mencapai 150 sentimeter atau hampir setinggi dada orang dewasa. Rumah-rumah warga nyaris tenggelam dan aktivitas masyarakat lumpuh total.
Tak kalah parah, Kampung Palasari RW 03 di Kelurahan Pasawahan juga terendam dengan ketinggian air mencapai 120 sentimeter. Warga terpaksa bertahan di rumah yang masih bisa ditempati, sementara sebagian lainnya memilih mengungsi demi keselamatan keluarga mereka.
Di Desa Dayeuhkolot sendiri, sedikitnya sembilan titik permukiman masih terendam. Mulai dari Kampung Babakan Sangkuriang RW 01 dengan genangan 10 hingga 30 sentimeter, Kampung Citeureup RW 02 setinggi 20 hingga 70 sentimeter, sampai kawasan Bojong Asih RW 04 yang airnya mencapai 80 sentimeter.
Sementara di Desa Citeureup, banjir menyebar luas ke sedikitnya 12 RW. Kawasan Sukabirus RW 13 menjadi salah satu wilayah paling kritis dengan genangan mencapai satu meter. Di Lamajang dan Leuwi Bandung, air juga belum surut dan masih berkisar antara 10 hingga 50 sentimeter.
Tak hanya rumah warga yang lumpuh, jalur lalu lintas utama pun ikut “tenggelam”. Jalan Raya Dayeuhkolot depan Kantor Pos terendam setinggi 40 hingga 60 sentimeter. Sedangkan di depan PT Metro Garmen, genangan mencapai 50 sentimeter sehingga kendaraan dipaksa merayap perlahan menembus banjir.
Situasi ini membuat Dayeuhkolot kembali seperti “langganan bencana” yang tak pernah benar-benar selesai.
Data sementara mencatat sebanyak 772 kepala keluarga atau 2.185 jiwa terdampak banjir. Desa Cangkuang Wetan menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 315 KK atau 1.271 jiwa. Sedangkan Kelurahan Pasawahan mencatat 457 KK atau 914 jiwa terdampak.
Kondisi pengungsian pun mulai memprihatinkan. Sedikitnya 61 kepala keluarga dengan total 168 jiwa kini bertahan di sejumlah titik evakuasi. Masjid Annur Desa Citeureup menampung 56 jiwa, Masjid Al Ikhlas dihuni 50 jiwa, sementara Shelter Desa Dayeuhkolot dipadati 62 pengungsi.
Yang membuat situasi makin mengkhawatirkan, di antara para pengungsi terdapat 13 balita, satu bayi, empat ibu menyusui, delapan lansia, hingga dua penyandang disabilitas. Bahkan dua warga dilaporkan sakit di tengah kondisi pengungsian yang serba terbatas.
“Banyak rumah warga terendam banjir dan sebagian akses jalan terputus,” ujar Camat Dayeuhkolot, Asep Suryadi, Selasa pagi.
Saat ini kebutuhan darurat warga terus bertambah. Masyarakat sangat membutuhkan makanan siap saji, air bersih, makanan balita, selimut, sembako, alat kebersihan, karung, troli, hingga pompa penyedot air.
Petugas gabungan dari kecamatan, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan unsur kewilayahan lainnya masih berjibaku melakukan pemantauan serta penanganan banjir di sejumlah titik terdampak.
Namun bagi warga Dayeuhkolot, banjir kali ini bukan sekadar genangan air. Ini adalah alarm keras bahwa ancaman tahunan di kawasan bantaran Sungai Citarum belum juga menemukan solusi nyata.
