Gunungan Sampah Pasar Baleendah Muncul Lagi, Sebulan Setelah Sidak Sekda Jabar
Senin, 01 Juni 2026 19:09
Reporter : Tim Digo.id
DigoID - Upaya pembersihan besar-besaran yang dilakukan di Pasar Baleendah bersama Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman pada akhir April lalu ternyata belum mampu menyelesaikan persoalan sampah secara tuntas. Baru sebulan berlalu, tumpukan sampah kembali menggunung di area Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Pasar Baleendah.
Tumpukan sampah yang sebagian besar berasal dari aktivitas pasar itu kini kembali meluber hingga ke luar area TPS dan mengganggu aktivitas pedagang maupun pengunjung pasar.
Ketua Pengelola TPS Pasar Baleendah, Indra Sukoco, mengatakan sampah mulai menumpuk sejak Jumat (29/5/2026). Volume sampah yang terkumpul diperkirakan sudah mencapai sekitar enam truk tronton.
"Kalau tidak diangkut setiap hari, jumlahnya terus bertambah. Sebagian besar sampah berasal dari aktivitas pasar," kata Indra, Senin (1/6/2026).
Kondisi tersebut memicu keluhan para pedagang. Selain menimbulkan kesan kumuh, tumpukan sampah juga mulai memakan badan jalan dan mengganggu aktivitas jual beli.
Kodari (50), seorang kuli pasar yang setiap hari bekerja di sekitar lokasi, mengaku kecewa karena persoalan sampah terus berulang meski para pedagang rutin membayar iuran kebersihan.
"Belum lama ini sempat bersih setelah diangkut ramai-ramai. Sekarang numpuk lagi. Padahal iuran tetap jalan," ujarnya.
Menurutnya, dampak yang paling terasa bukan hanya bau tak sedap, melainkan munculnya belatung yang mulai menyebar ke area dalam pasar.
"Yang kasihan pedagang ayam. Sampah sekarang sampai meluber ke jalan dan dekat lapak mereka. Belatung juga sudah mulai masuk," katanya.
Ia menilai fasilitas pengolahan sampah yang tersedia di lokasi belum berjalan sebagaimana mestinya.
"Dulu katanya ada program pengolahan organik dan biodigester. Tapi sampai sekarang saya belum pernah lihat benar-benar berjalan. Akhirnya sampah tetap menumpuk di luar," tuturnya.
Kodari berharap pemerintah tidak hanya melakukan pembersihan sementara, tetapi menghadirkan solusi permanen agar persoalan yang sama tidak terus berulang.
"Kami butuh solusi nyata. Setiap pagi jalan makin sempit karena tertutup sampah. Kalau begini terus ya susah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Rully Hadiana, mengakui kembali terjadinya penumpukan sampah di Pasar Baleendah.
Menurut Rully, salah satu penyebabnya adalah belum optimalnya pengelolaan sampah di pasar serta belum sinkronnya pengelolaan antara pihak pedagang dan pengelola pengolahan sampah.
"Ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Pengelolaan sampah di pasar belum berjalan optimal dan ada persoalan koordinasi yang harus diselesaikan bersama," kata Rully.
Ia menjelaskan, fasilitas pengolahan sampah sempat ditutup sementara karena adanya kekhawatiran terhadap keamanan peralatan biodigester yang berada di lokasi. Akibatnya, sampah yang biasanya masuk ke area pengolahan akhirnya ditumpuk di luar.
"Begitu sampah pasar berada di luar, lama-kelamaan kembali menumpuk. Bahkan bisa memancing orang lain ikut membuang sampah di lokasi yang sama," ujarnya.
Rully menegaskan bahwa secara ideal Dinas Lingkungan Hidup hanya mengangkut residu atau sisa sampah yang tidak bisa diolah. Namun kondisi darurat sampah yang masih dihadapi Bandung Raya membuat volume sampah yang harus ditangani meningkat signifikan.
Ia mengungkapkan, saat operasi pembersihan sebelumnya, sekitar 370 ton sampah dari kawasan Pasar Baleendah berhasil diangkut ke TPA Sarimukti.
"Kami tentu tidak ingin kondisi ini terulang. Karena itu perlu langkah bersama dari seluruh pihak agar pengelolaan sampah bisa berjalan lebih efektif," katanya.
Meski demikian, Rully memastikan pihaknya tetap akan melakukan penanganan terhadap tumpukan sampah yang kembali muncul tersebut.
"Kami akan terus memantau dan mengambil langkah yang diperlukan. Pengangkutan tetap akan dilakukan sesuai kondisi di lapangan," tegasnya.
Di sisi lain, ia kembali mengingatkan pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya melalui pemilahan sampah organik dan anorganik, baik di lingkungan rumah tangga, pasar maupun kawasan usaha.
"Kalau masyarakat mulai memilah dan mengolah sampah dari hulu, volume sampah yang masuk ke TPS maupun TPA bisa berkurang secara signifikan," pungkasnya.
