Libur Panjang Tak Mampu Dongkrak Wisata Kabupaten Bandung, Daya Beli Melemah hingga Cuaca Buruk Jadi Penyebab
Jumat, 29 Mei 2026 15:55
Reporter : Tim Digo.id
DigoID — Libur panjang sepanjang Mei 2026 ternyata belum mampu mendongkrak sektor pariwisata di Kabupaten Bandung secara signifikan. Meski terjadi peningkatan kunjungan wisatawan, jumlahnya dinilai masih jauh dari harapan para pelaku usaha wisata.
Kepala Dinas Ekonomi Kreatif Kabupaten Bandung, Wawan A Ridwan, mengungkapkan kenaikan jumlah wisatawan selama periode libur bersama hanya berada di kisaran 30 persen.
“Bulan Mei ini memang ada beberapa libur panjang. Kunjungan ada peningkatan, tapi tidak signifikan. Sekitar 30 persen kenaikannya,” ujar Wawan di Soreang Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang membuat wisatawan masih menahan diri datang ke kawasan wisata Kabupaten Bandung, khususnya wilayah selatan yang selama ini menjadi destinasi favorit wisata alam.
Salah satu penyebab utama lesunya kunjungan wisata adalah kondisi cuaca yang tidak menentu. Kawasan Bandung Selatan belakangan kerap diguyur hujan disertai angin kencang yang memicu kekhawatiran wisatawan.
“Cuaca sekarang sedang pancaroba. Kadang hujan, kadang panas. Wilayah selatan juga rawan bencana seperti pohon tumbang dan angin puting beliung, sehingga wisatawan memilih menahan diri datang,” katanya.
Kondisi itu berdampak langsung terhadap sejumlah destinasi wisata alam di Ciwidey, Rancabali hingga Pangalengan yang mengandalkan aktivitas luar ruangan.
Selain faktor cuaca, Wawan menyebut kondisi ekonomi masyarakat juga menjadi penyebab menurunnya minat berwisata.
“Kondisi daya beli masyarakat sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bandung,” ujarnya.
Bahkan jika dibandingkan dengan momentum libur Iduladha tahun lalu, jumlah wisatawan tahun ini diperkirakan sedikit menurun. Salah satu penyebabnya karena momen liburan bertepatan dengan kebutuhan masuk sekolah dan penerimaan siswa baru.
“Masyarakat sekarang lebih mengutamakan kebutuhan pendidikan anak dibandingkan liburan,” kata Wawan.
Situasi tersebut membuat banyak keluarga memilih mengurangi pengeluaran wisata di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Ekraf Kabupaten Bandung meminta seluruh pengelola wisata meningkatkan kualitas pelayanan agar tetap mampu menarik wisatawan.
Menurut Wawan, daya tarik wisata bukan hanya soal panorama alam, tetapi juga keramahan, keamanan, kenyamanan hingga kebersihan lingkungan.
“Yang paling penting itu hospitality, keramahan, keamanan, ketertiban, dan kebersihan,” tegasnya.
Persoalan sampah menjadi perhatian serius pemerintah daerah menyusul kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang kini mengalami overload.
Wawan meminta seluruh pengusaha wisata mulai mengelola sampah secara mandiri tanpa membuang limbah ke Sarimukti.
“Organik dijadikan kompos, anorganik dilakukan 3R, reduce, reuse, recycle,” ujarnya.
Ia menambahkan, beberapa pengelola wisata di Kabupaten Bandung kini sudah mulai bekerja sama dengan perusahaan swasta pengolah sampah bersertifikasi agar sampah tidak lagi dibuang ke TPA.
Meski kondisi saat ini belum ideal, Pemerintah Kabupaten Bandung tetap optimistis sektor pariwisata akan kembali menggeliat pada semester kedua tahun 2026.
“Kami berharap enam bulan ke depan kunjungan wisatawan meningkat seiring kondisi ekonomi yang membaik dan daya beli masyarakat kembali naik,” kata Wawan.
Kabupaten Bandung sendiri masih menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat dengan kekuatan utama wisata alam, pegunungan, perkebunan teh dan udara sejuk yang menjadi daya tarik wisatawan domestik.
