Jurnalis Muda Asal Kabupaten Bandung Hilang Kontak di Laut Gaza, Video SOS Jadi Pesan Terakhir Thoudy Badai
Selasa, 19 Mei 2026 21:49
Reporter : Tim Digo.id
DigoID – Laut internasional di jalur menuju Gaza berubah menjadi sunyi dan mencekam bagi keluarga Thoudy Badai. Jurnalis muda asal Cicalengka, Kabupaten Bandung itu dilaporkan hilang kontak setelah kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang ditumpanginya dicegat tentara Israel (IDF).
Sebelum komunikasi benar-benar terputus, Thoudy masih sempat mengirim video SOS dari atas kapal.
Sejak saat itu, tak ada lagi kabar.
Kecemasan kini menyelimuti rumah keluarga Thoudy di Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka.
Sang ibu, Hani Hanifa Humanisa (56), mengaku terus menunggu kabar keselamatan anaknya sambil berusaha tetap kuat menghadapi situasi yang belum jelas.
“Odi pergi sebagai jurnalis. Dia menjalankan tugas peliputan misi kemanusiaan menuju Gaza,” ujar Hani.
Thoudy diketahui ikut dalam rombongan aktivis internasional yang membawa bantuan kemanusiaan melalui jalur laut dari Tunisia menuju Gaza.
Di dalam kapal itu, ia bertugas mendokumentasikan perjalanan dan kondisi misi kemanusiaan yang menjadi perhatian dunia internasional.
Namun di tengah perjalanan, kapal mereka dikabarkan diintersep tentara Israel di perairan internasional.
Bagi keluarga, kabar itu menjadi pukulan besar.
Hani menceritakan, sebelum keberangkatan, putranya sempat berbicara panjang tentang misi yang akan dijalankan.
Sebagai ibu, ia memahami ada risiko besar yang mengintai, tetapi ia juga melihat keyakinan kuat dalam diri anaknya.
“Sebelum berangkat, kami berdiskusi sangat mendalam. Odi menjelaskan semua, termasuk risiko-risikonya. Tapi saya melihat dia sangat yakin dengan apa yang dia lakukan,” katanya.
Menurut Hani, kepedulian Thoudy terhadap isu Palestina bukan hal baru. Ia menilai putranya memiliki perhatian besar terhadap persoalan kemanusiaan di Gaza.
“Dia memang punya perhatian terhadap Palestina dan penderitaan warga Gaza. Karena itu dia merasa tugas ini penting,” ujarnya.
Meski dihantui rasa takut, keluarga akhirnya memberikan restu.
“Sebagai ibu tentu saya khawatir. Tapi saya juga tahu dia menjalankan tugas profesinya secara profesional,” katanya.
Selama perjalanan, Thoudy masih rutin memberikan kabar kepada keluarga. Bahkan keluarga sempat memantau posisi kapal melalui tautan radar yang dibagikan langsung olehnya.
Namun semuanya berubah cepat ketika kapal dilaporkan dicegat.
“Kami mendapat kabar kapal diintersep. Setelah itu komunikasi hilang,” tutur Hani.
Saat ini keluarga memilih fokus mencari informasi resmi dan terus berkoordinasi dengan pihak redaksi Republika serta jaringan Global Sumud Flotilla.
“Kami tidak ingin berspekulasi. Fokus kami keselamatan Odi,” katanya.
Insiden yang menimpa Thoudy memicu perhatian luas karena menyangkut keselamatan jurnalis sipil dalam misi kemanusiaan internasional.
Banyak pihak menilai jurnalis yang menjalankan tugas peliputan di wilayah konflik seharusnya mendapatkan perlindungan berdasarkan hukum humaniter internasional.
Keluarga Thoudy juga berharap pemerintah Indonesia dapat mengambil langkah diplomasi untuk memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia yang berada di kapal tersebut.
“Kami percaya pemerintah sedang bekerja melalui jalur diplomatik untuk membantu keselamatan mereka,” ujar Hani.
Di tengah ketidakpastian, doa terus mengalir dari rekan-rekan jurnalis, sahabat, dan masyarakat. Dukungan itu menjadi kekuatan bagi keluarga yang kini hanya berharap satu hal agar Thoudy kembali pulang dalam keadaan selamat.
“Kami tetap optimis dan terus berdoa,” kata Hani lirih.
Kini, video SOS yang sempat dikirim dari tengah laut menjadi jejak terakhir keberadaan Thoudy Badai sebelum jurnalis muda asal Bandung itu hilang kontak di jalur menuju Gaza.
