Sapi Kurban Rp150 Juta Diburu Pejabat, Peternak Bandung Kewalahan Penuhi Pesanan
Minggu, 17 Mei 2026 14:53
Reporter : Tim Digo.id
SOREANG, 17 MEI 2026, - Pasar hewan kurban di Kabupaten Bandung mulai memanas jelang Idul Adha 2026. Permintaan sapi melonjak tajam, harga merangkak naik, dan para peternak kini dibuat kelimpungan mengejar pesanan yang datang bertubi-tubi.
Bahkan, sapi jumbo berbobot hampir satu ton dengan harga tembus Rp150 juta disebut paling banyak diburu kalangan pejabat.
Fenomena itu diungkapkan Heru Sasongko (47), pengelola peternakan Rumah Kurban di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Di tengah padatnya kandang sapi miliknya, Heru mengaku masih kekurangan stok untuk memenuhi permintaan pelanggan.
“Penjualan tahun sekarang jauh lebih menjanjikan dibanding tahun kemarin. Saya masih kekurangan banyak, ada sekitar 50 konsumen yang belum kebagian sapi,” kata Heru, Kamis (14/5/2026).
Saat ini Heru mengelola sekitar 200 ekor sapi yang tersebar di tiga lokasi peternakan, yakni Majalaya, Arjasari, dan Cilengkrang. Sebagian besar sapi didatangkan dari Bali, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Harga sapi biasa berkisar Rp24,5 juta hingga Rp25 juta per ekor. Namun angka itu melonjak drastis untuk sapi premium yang diburu kalangan tertentu.
“Kalau pejabat biasanya nyari yang bobotnya besar, di atas 300 kilogram sampai satu ton. Harganya bisa Rp100 juta sampai Rp150 juta lebih,” ujarnya.
Tak hanya mahal, pola pembelian pejabat juga disebut kerap membuat peternak kelabakan. Sebab pemesanan biasanya dilakukan mendekati hari penyembelihan.
“Pesannya suka mendadak, waktunya mepet,” katanya.
Sapi berukuran jumbo itu membutuhkan perlakuan khusus. Porsi makan lebih besar, frekuensi pemberian pakan lebih sering, hingga tambahan vitamin dan jamu untuk menjaga kondisi hewan tetap prima menjelang pengiriman.
“Kalau sapi besar makannya bisa tiga kali sehari. Rumput sekarang juga susah dicari, jadi harus ditambah pakan lain,” kata Heru.
Di tengah ramainya transaksi kurban, Pemerintah Kabupaten Bandung kini memperketat pengawasan kesehatan hewan. Kekhawatiran terhadap masuknya ternak sakit dari luar daerah menjadi perhatian serius menjelang Idul Adha.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, mengatakan lalu lintas ternak dipastikan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Karena itu pengawasan diperketat, terutama terhadap sapi kiriman dari luar Jawa Barat.
“Kita tetap waspada terhadap penyakit hewan maupun zoonosis. Lalu lintas ternak menjelang Idul Adha pasti meningkat,” ujar Ina.
Sebanyak 66 tenaga medik dan paramedik veteriner diterjunkan untuk memeriksa lapak-lapak penjualan hewan kurban. Pemeriksaan dilakukan mulai dari kondisi fisik hewan hingga dokumen kesehatan ternak.
Hewan yang dinyatakan sehat akan diberi label khusus agar mudah dikenali pembeli. Sementara lapak yang lolos pemeriksaan akan ditempeli stiker resmi dari Distan.
“Jangan hanya tergiur harga murah atau badan besar. Pastikan hewan sehat dan memenuhi syarat kurban,” katanya.
Pengawasan juga dilakukan di jalur distribusi ternak, terutama kawasan Nagreg yang menjadi pintu masuk utama hewan kurban ke Bandung Raya.
Jika ditemukan sapi yang dicurigai sakit, hewan akan langsung dikarantina sementara di Rumah Potong Hewan Baleendah sebelum diperiksa lebih lanjut.
Distan Kabupaten Bandung memprediksi jumlah hewan kurban tahun ini meningkat sekitar 10 hingga 15 persen dibanding tahun lalu. Pada Idul Adha sebelumnya, tercatat sekitar 27 ribu ekor hewan kurban disembelih di Kabupaten Bandung.
Sementara itu, pedagang sapi di kawasan Soreang mulai bersiap menghadapi lonjakan pembeli H-7 Idul Adha. Meski saat ini mayoritas warga masih sebatas survei harga, para pedagang optimistis pasar akan meledak dalam waktu dekat.
“Biasanya seminggu sebelum Idul Adha langsung ramai dan kandang cepat kosong,” ujar Asep (47), pedagang sapi di Soreang.
