IGD RSUD Otista Soreang Penuh Saat Video Keluhan Pasien Viral, Ini Penjelasan Dirut
Rabu, 20 Mei 2026 12:28
Reporter : Tim Digo.id
DigoID — Video keluhan pasien di IGD RSUD Otista Soreang viral di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pasien yang disebut mengalami asma dan sesak napas tampak kecewa karena tidak segera mendapatkan penanganan.
Pihak keluarga bahkan menyebut pasien sempat ditolak dengan alasan ruang IGD penuh.
Video itu langsung memicu kemarahan warganet. Banyak yang mempertanyakan pelayanan rumah sakit, terlebih kondisi pasien disebut sedang mengalami gangguan pernapasan.
Menanggapi polemik yang berkembang, Direktur Utama RSUD Otista Soreang, dr. Yuli Irnawaty Mosjasari, akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf kepada pasien, keluarga, serta masyarakat.
“Terkait dengan video yang kemarin viral, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan kepada pasien, keluarga maupun masyarakat,” ujar Yuli, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, saat kejadian kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) memang sedang penuh akibat lonjakan pasien yang datang bersamaan. Menurutnya, tenaga medis harus menjalankan sistem prioritas berdasarkan tingkat kegawatdaruratan pasien.
“Pada saat itu memang di IGD kami kondisi pasien sangat banyak sehingga menumpuk. Sesuai kegawatdaruratan, kami harus melakukan prioritas dalam penanganan pasien,” katanya.
Yuli mengakui pihak keluarga pasien pasti merasa cemas melihat kondisi anggota keluarganya yang mengalami sesak napas.
Namun di waktu bersamaan, terdapat dua pasien lain yang dinilai dalam kondisi lebih kritis dan membutuhkan penanganan intensif dengan banyak peralatan medis.
“Karena ada datang dua pasien sebelumnya yang memang gawat darurat. Penanganannya juga harus menggunakan banyak peralatan sehingga tenaga kami terkonsentrasi kepada pasien yang lebih gawat darurat tersebut,” jelasnya.
Akibat kondisi itu, pasien lain yang datang ke IGD harus menunggu antrean penanganan.
Meski begitu, Yuli menyebut pihak rumah sakit menjadikan kejadian viral tersebut sebagai bahan evaluasi serius.
Menurutnya, meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke RSUD Otista menjadi tantangan yang harus segera direspons dengan penambahan kapasitas layanan.
“Hal tersebut akan kami lakukan perbaikan ke depannya, mungkin dengan penambahan kapasitas karena memang akhir-akhir ini pasien semakin meningkat kunjungan ke rumah sakit ini,” ungkapnya.
Saat ini, kapasitas IGD RSUD Otista disebut hanya memiliki sekitar 38 bed atau tempat tidur penanganan darurat. Sementara total kapasitas rawat inap rumah sakit mencapai 272 bed.
Keterbatasan kapasitas itu disebut menjadi salah satu penyebab terjadinya penumpukan pasien di ruang IGD, terutama pada jam-jam sibuk atau saat banyak pasien gawat darurat datang secara bersamaan.
“Kami akan melakukan perbaikan penyiapan perluasan pelayanan yang mana pasti membutuhkan waktu, karena harus disiapkan sarana-prasarana dan SDM-nya,” katanya.
Ia berharap ke depan pelayanan rumah sakit bisa lebih optimal dan tidak lagi menimbulkan keluhan serupa di masyarakat.
“Mudah-mudahan ke depan kami bisa memberikan yang lebih baik kepada masyarakat. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” tutupnya.
