digoNEWS

Sudaryono Klarifikasi Insiden Diskusi di UGM: "Kami Datang untuk Berdialog"

Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.56 WIB
32 views
Sudaryono Klarifikasi Insiden Diskusi di UGM: "Kami Datang untuk Berdialog"

Bagikan artikel:

DigoID, – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono buka suara terkait insiden yang terjadi dalam agenda diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (15/6/2026). Ia menegaskan kehadiran dirinya bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Budiman Sudjatmiko bukan untuk menghindari kritik, melainkan membuka ruang dialog langsung dengan mahasiswa.

Klarifikasi itu disampaikan setelah agenda diskusi di kampus tersebut menjadi sorotan publik. Sejumlah potongan video dan informasi mengenai jalannya acara ramai diperbincangkan di media sosial.

Sudaryono mengatakan, kegiatan tersebut telah dipersiapkan jauh-jauh hari dan memperoleh izin resmi dari pihak kampus. Menurut dia, forum serupa juga bukan kali pertama digelar di lingkungan UGM.

"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," kata Sudaryono.

Ia membantah anggapan bahwa kehadiran para pejabat pemerintah dalam forum tersebut bertujuan menghindari perdebatan atau membatasi kritik dari peserta diskusi.

Menurutnya, mahasiswa tetap diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

"Ditanya apa saja tidak masalah. Dihadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," ujarnya.

Sudaryono menilai perbedaan pandangan dalam forum akademik merupakan hal yang wajar. Justru, kata dia, kampus seharusnya menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan, termasuk kritik terhadap pemerintah.

Pernyataan itu menjadi respons atas insiden yang terjadi selama pelaksanaan diskusi di GIK UGM. Meski demikian, Sudaryono tidak menjelaskan secara rinci bentuk insiden yang dimaksud.

Ia menekankan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut adalah membangun komunikasi yang terbuka antara pemerintah dengan kalangan akademisi, khususnya mahasiswa.

Bagi pemerintah, lanjut dia, forum tatap muka menjadi salah satu cara untuk mendengar langsung aspirasi masyarakat dari kelompok muda yang selama ini aktif menyuarakan berbagai isu publik.

"Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," tegasnya.

Kehadiran pejabat negara di lingkungan kampus memang kerap memicu dinamika tersendiri. Di satu sisi, mahasiswa menuntut ruang kritik yang bebas dan independen. Di sisi lain, pemerintah melihat forum kampus sebagai kesempatan untuk menjelaskan kebijakan sekaligus menerima masukan secara langsung.

Insiden dalam diskusi di UGM ini pun kembali memunculkan perdebatan mengenai batas antara kebebasan berekspresi, etika dalam forum akademik, serta pentingnya menjaga ruang dialog yang sehat di lingkungan perguruan tinggi.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak UGM terkait evaluasi atas jalannya kegiatan tersebut. Namun, pernyataan Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah memandang forum diskusi di kampus sebagai bagian dari praktik demokrasi yang harus dijaga.

Bagi mahasiswa, ruang untuk bertanya dan mengkritik tetap menjadi elemen penting dalam kehidupan akademik. Sementara bagi pemerintah, kesediaan untuk hadir dan menjawab pertanyaan publik menjadi ujian atas komitmen terhadap keterbukaan.