Panas Ekstrem Diprediksi Ganggu 97 Laga Piala Dunia 2026, Performa Pemain Terancam Turun

Bagikan artikel:
DigoID – Gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim diprediksi akan membayangi hampir seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Kajian terbaru Climate Central menyebut 97 dari total 104 laga berpotensi berlangsung dalam suhu yang dapat mengganggu performa pemain.
Lembaga riset dan komunikasi iklim itu menemukan adanya risiko suhu udara melampaui 28 derajat Celcius di banyak stadion tuan rumah. Angka tersebut dinilai sebagai ambang kritis yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fisik atlet, mulai dari berkurangnya frekuensi sprint hingga melambatnya proses pemulihan.
Piala Dunia 2026 akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Dalam risetnya, Climate Central membandingkan kondisi iklim saat ini yang dipengaruhi aktivitas manusia dengan simulasi dunia tanpa pemanasan global. Tujuannya untuk mengukur sejauh mana perubahan iklim meningkatkan peluang terjadinya panas ekstrem selama turnamen, dari fase grup hingga final.
Dampaknya diperkirakan sudah terasa sejak babak penyisihan. Jepang menjadi salah satu tim yang diprediksi menghadapi tantangan berat akibat cuaca panas.
Laga Jepang melawan Belanda di Dallas, Texas, disebut memiliki peluang 95 persen mengalami suhu yang melewati batas risiko. Saat menghadapi Tunisia di Monterrey, Meksiko, peluangnya mencapai 79 persen, sedangkan pertandingan melawan Swedia di Dallas tercatat hingga 98 persen.
Semua angka tersebut lebih tinggi dibandingkan simulasi kondisi bumi tanpa pemanasan global.
Sementara itu, peningkatan risiko terbesar ditemukan pada pertandingan Uruguay kontra Spanyol di Guadalajara, Meksiko, pada 26 Juni. Perubahan iklim disebut meningkatkan peluang terjadinya panas ekstrem sebesar 37 poin persentase hingga mencapai 70 persen.
Anggota Climate Central sekaligus Profesor University of Portsmouth, Mike Tipton, mengatakan suhu tinggi bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi dapat mengubah karakter pertandingan.
"Bermain di suhu di atas 28 derajat Celcius mempengaruhi permainan, taktik, tempo, dan kualitas secara keseluruhan," ujar Tipton, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, panas ekstrem membuat intensitas permainan menurun.
"Kami melihat adanya penurunan intensitas, berkurangnya sprint, dan potensi lebih sedikitnya peluang tercipta," katanya.
Ancaman tersebut tidak hanya menyasar pemain. Suporter yang hadir langsung di stadion juga menghadapi risiko kesehatan akibat paparan suhu tinggi.
Gelandang tim nasional Norwegia, Morten Thorsby, menilai perubahan iklim kini telah menjadi persoalan serius dalam dunia sepak bola.
"Analisis ini memperjelas bahwa kenaikan suhu tidak hanya menjadi risiko kesehatan yang serius bagi pemain dan penggemar, tetapi juga mulai mempengaruhi kualitas permainan itu sendiri," kata Thorsby.
Ia menambahkan, menurunnya kemampuan fisik pemain akan berdampak langsung terhadap kualitas pertandingan.
"Ketika panas berdampak pada kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan dan perubahannya tidak ke arah yang lebih baik," tegasnya.
Temuan ini diperkirakan akan memaksa tim peserta beradaptasi lebih cepat. Strategi rotasi pemain, pengaturan waktu pemulihan, hingga pola hidrasi diprediksi menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Di sisi lain, kajian tersebut kembali menegaskan bahwa dampak perubahan iklim kini tak lagi menjadi isu jangka panjang. Bahkan, panggung olahraga terbesar dunia pun mulai merasakan konsekuensinya secara langsung.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





