digoNEWS

Tinggal Hitungan Bulan! Es Abadi Terakhir Indonesia di Jayawijaya Diprediksi Lenyap Awal 2027

Sabtu, 4 Juli 2026 pukul 20.02 WIB
16 views
Tinggal Hitungan Bulan! Es Abadi Terakhir Indonesia di Jayawijaya Diprediksi Lenyap Awal 2027

Bagikan artikel:

DigoID, - Indonesia terancam kehilangan satu-satunya es abadi di kawasan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi lapisan es di Puncak Jayawijaya, Papua, akan mencair habis pada akhir 2026 atau awal 2027 jika laju pencairan saat ini terus berlanjut.

Prediksi itu bukan tanpa dasar. Data pemantauan menunjukkan glasier Jayawijaya menyusut nyaris habis dalam tiga dekade terakhir.

Pada 1988, luas es masih mencapai sekitar 4,3 kilometer persegi. Namun hingga September 2025, luasnya tinggal sekitar 0,09 kilometer persegi atau hanya menyisakan sekitar dua persen dari kondisi semula.

"Perubahan yang terjadi sangat drastis. Luas es terus menyusut dan ketebalannya juga terkikis dengan kecepatan yang mengkhawatirkan," ungkap BMKG dalam video yang diunggah melalui akun Instagram resminya, Sabtu (4/7/2026).

Penyusutan itu juga terlihat dari ketebalan es. Pada 2010, lapisan es di titik pengamatan masih sekitar 32 meter. Saat diukur kembali pada 2023, ketebalannya tinggal sekitar empat meter.

Kini, titik yang sama dilaporkan sudah kehilangan seluruh lapisan esnya.

BMKG mencatat sejak 2016, ketebalan glasier berkurang rata-rata dua hingga 2,5 meter setiap tahun. Kombinasi perubahan iklim global dan fenomena El Nino disebut menjadi penyebab utama percepatan pencairan akibat suhu yang semakin panas dan musim kering yang lebih panjang.

Jika glasier itu benar-benar hilang, dampaknya tidak berhenti pada lenyapnya bentang alam langka.

Bagi masyarakat adat Papua, Puncak Jayawijaya merupakan kawasan yang memiliki makna budaya dan spiritual. Sementara dari sisi lingkungan, es pegunungan berperan menjaga keseimbangan air, menopang ekosistem pegunungan, hingga mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam di sekitarnya.

BMKG menilai kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar proyeksi ilmiah, melainkan sudah terlihat langsung di Indonesia.

"Bisa jadi, generasi kita adalah generasi terakhir yang masih memiliki kesempatan menyaksikan es abadi di negeri ini sebelum benar-benar menghilang," demikian pesan BMKG.

BMKG mengingatkan bahwa laju perubahan iklim masih bisa diperlambat apabila upaya pengurangan emisi dilakukan secara bersama, mulai dari menggunakan transportasi umum, menghemat energi dan air, menanam pohon, mendaur ulang sampah, hingga memilih produk yang lebih ramah lingkungan.