Menteri LH Bidik Gen Z Jadi Motor 'Tobat Ekologis', Kampus Diminta Pimpin Gerakan Selamatkan Lingkungan

Bagikan artikel:
DigoID, – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak mahasiswa dan Generasi Z menjadi ujung tombak Gerakan Tobat Ekologis Nasional. Menurutnya, pemulihan lingkungan tak bisa lagi hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari kesadaran generasi muda.
Ajakan itu disampaikan Jumhur saat memberikan kuliah umum dalam Dies Natalis ke-1 Universitas Harkat Negeri di Tegal, Jawa Tengah.
Di hadapan ratusan mahasiswa, Jumhur menegaskan kerusakan lingkungan merupakan persoalan kolektif yang hanya bisa diselesaikan melalui aksi kolektif. Ia memperkenalkan konsep "Tobat Ekologis" sebagai perubahan cara pandang sekaligus tindakan nyata untuk memulihkan alam.
"Kalau kerusakan lingkungan merupakan kesalahan kolektif, maka memperbaikinya juga harus menjadi gerakan kolektif. Saya mengajak seluruh masyarakat melakukan Tobat Ekologis Nasional, yaitu berkomitmen untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang merusak bumi dan bersama-sama memulihkan lingkungan," kata Jumhur.
Ia menjelaskan, gerakan tersebut berangkat dari tiga prinsip utama, yakni menyadari kesalahan terhadap lingkungan, berkomitmen tidak mengulanginya, dan konsisten melakukan upaya perbaikan.
Jumhur juga mengingatkan pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Menurutnya, Indonesia harus tetap tumbuh, tetapi dengan tetap mematuhi aturan perlindungan alam.
"Pembangunan itu harus tetap berjalan demi kesejahteraan rakyat, tetapi wajib patuh pada aturan perlindungan alam. Jika semua pihak memiliki komitmen yang sama, kepatuhan ini justru akan melahirkan ekosistem baru berupa green jobs dan green economy," ujarnya.
Ia menilai Generasi Z memiliki modal besar untuk memimpin perubahan. Berdasarkan berbagai hasil riset, sekitar 80 persen Gen Z Indonesia disebut memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan. Kepedulian itu terlihat dari semakin banyaknya aksi bersih sungai, penanaman pohon, rehabilitasi mangrove, hingga munculnya berbagai komunitas peduli lingkungan.
Sebagai tindak lanjut Gerakan Tobat Ekologis Nasional, pemerintah menyiapkan sejumlah program besar. Mulai dari penanaman dua miliar pohon, rehabilitasi mangrove, pemulihan lahan kritis, pengendalian pencemaran sungai, peningkatan kepatuhan industri dalam pengelolaan limbah, hingga mendorong perusahaan sektor ekstraktif merehabilitasi kawasan bekas tambang.
Di sisi lain, Rektor Universitas Harkat Negeri Sudirman Said mengingatkan bahwa krisis lingkungan tidak akan selesai jika setiap pihak bekerja sendiri-sendiri. Menurutnya, kolaborasi menjadi syarat utama keberhasilan pembangunan berkelanjutan.
"Krisis lingkungan yang masif tidak akan bisa diselesaikan jika pemerintah, pelaku bisnis, institusi keuangan seperti OJK dan Bank Indonesia, serta komunitas masyarakat sipil bergerak sendiri-sendiri. Sinergi lintas sektor adalah kunci utama mengembalikan harkat dan martabat bumi pertiwi," ujar Sudirman.
Menutup kuliah umum, Jumhur menegaskan perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat lahirnya riset, inovasi, dan solusi untuk mempercepat pemulihan lingkungan. Pemerintah berharap kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya aksi nyata menuju pembangunan Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Sumber : Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






