Listrik Padam 15 Menit Jelang OSN Berakhir, Siswi SD di Sukabumi Gagal Tuntaskan Ujian

Bagikan artikel:
DigoID, - Kesempatan emas mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) harus kandas bagi Nadia Putrinda Paramita, siswi kelas 5 SDN Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi. Ujian yang sudah dipersiapkannya selama enam bulan terakhir terhenti akibat pemadaman listrik mendadak saat waktu pengerjaan tinggal sekitar 15 menit.
Peristiwa itu terjadi saat pelaksanaan OSN tingkat SD secara daring pada Senin, 8 Juni 2026. Nadia yang mengikuti OSN bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) tak kuasa menahan tangis ketika menyadari ujian tak dapat dilanjutkan.
Video isak tangis Nadia pun beredar di media sosial dan menuai simpati warganet. Banyak yang menyoroti gangguan teknis yang berujung hilangnya kesempatan seorang siswa untuk menyelesaikan kompetisi akademik tingkat nasional.
Pengawas OSN SDN Gandasoli, Isop Sopiah, mengatakan pelaksanaan OSN sejak pagi berjalan tanpa kendala. Sesi pertama berlangsung normal pada pukul 08.00 hingga 09.00 WIB.
Masalah muncul saat sesi terakhir yang dijadwalkan pukul 13.00 hingga 14.00 WIB.
"Mati lampu itu kejadiannya di menit-menit akhir sebetulnya, sekitar 15 atau 20 menit lagi ke sesi akhir selesai. Awalnya ada murid yang bilang nge-freeze, kemudian sempat logout sendiri. Setelah berhasil login kembali dan berjalan beberapa menit, tiba-tiba listrik padam total," kata Isop, Rabu (10/6/2026).
Pihak sekolah sempat menunggu dengan harapan listrik kembali menyala sehingga siswa dapat melanjutkan ujian. Namun hingga batas waktu berakhir, aliran listrik belum pulih.
"Kami menenangkan para siswa. Tunggu aja dulu barangkali nanti ada kebijakan lain atau misalnya nyala lagi lampunya. Tapi ternyata ditunggu-tunggu sampai beberapa waktu tidak nyala lagi. Ya udah, kami suruh tutup aja laptopnya, pulang," ujarnya.
Menurut Isop, sekolah tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait adanya pemadaman listrik. Akibatnya, tidak ada langkah antisipasi yang bisa dilakukan untuk menghindari gangguan terhadap pelaksanaan OSN.
"Kalau misalnya ada kegiatan yang sifatnya urgen seperti ini, mohon pihak terkait seperti PLN itu ada pemberitahuan dulu, supaya kita pun siap-siap atau mungkin bisa dipindah di lain waktu," katanya.
Bagi Nadia, insiden tersebut menjadi pukulan telak. Sebab, OSN bukan sekadar lomba, melainkan target yang telah dipersiapkan dengan serius selama berbulan-bulan.
Siswi yang bercita-cita menjadi diplomat itu mengaku awalnya mengira pemadaman hanya berlangsung sesaat. Namun kecemasan mulai muncul ketika mengetahui waktu ujian terus berjalan.
"Pas awal-awal mati itu masih biasa aja, saya kira bakal bentar. Tapi pas denger waktu yang tersisa tinggal 15 menit lagi, saya agak gelisah. Apalagi udah disiapin dari berbulan-bulan," kata Nadia.
Saat listrik padam, Nadia telah menyelesaikan 40 dari total 60 soal yang harus dikerjakan. Ia berharap bisa mengharumkan nama sekolah sekaligus membanggakan kedua orang tuanya melalui ajang tersebut.
"Cita-cita aku jadi diplomat. Target OSN itu jadi saya mau membanggakan orang tua dan sekolah. Jadi saking inginnya juara, mempersiapkan itu dari berbulan-bulan," tuturnya.
Nadia masih menyimpan harapan agar ada kebijakan dari panitia terkait gangguan teknis yang terjadi di luar kendali peserta.
"Maunya mah saya OSN diulang. Tapi ya gimana lagi, kalau enggak bisa ya sudah saya ikhlasin aja. Kalau pun ada pemadaman listrik harusnya beritahu dulu jadi sudah persiapan," ujarnya.
Insiden di SDN Gandasoli menjadi catatan penting dalam pelaksanaan kompetisi berbasis daring. Di tengah tuntutan digitalisasi pendidikan, kesiapan infrastruktur dan mitigasi gangguan teknis menjadi faktor krusial agar perjuangan peserta tidak terhenti bukan karena kemampuan, melainkan karena keadaan yang tak bisa mereka kendalikan.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





