digoNEWS

Kapolresta Bandung Resmikan Jembatan Merah Putih, Anak-anak Kini Tak Lagi Bertaruh Nyawa ke Sekolah

Kamis, 11 Juni 2026 pukul 12.14 WIB
35 views
Kapolresta Bandung Resmikan Jembatan Merah Putih, Anak-anak Kini Tak Lagi Bertaruh Nyawa ke Sekolah

Bagikan artikel:

DigoID, - Langkah-langkah kecil anak-anak sekolah di atas jembatan bambu itu dulu selalu menyisakan kekhawatiran. Setiap pagi, mereka menyeberangi aliran sungai melalui susunan bambu yang mulai lapuk, bergoyang ketika diinjak, bahkan licin saat hujan turun.

Namun, itulah satu-satunya akses tercepat yang menghubungkan Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, dengan Desa Nanjung Mekar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Bukan hanya pelajar yang bergantung pada jembatan sederhana tersebut. Para buruh pabrik yang bekerja di kawasan industri sekitar juga melintasinya setiap hari. Demi menghemat waktu dan jarak tempuh, mereka rela meniti jembatan bambu yang kondisinya jauh dari kata aman.

Cerita panjang tentang kecemasan itu akhirnya menemukan titik terang. Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono meresmikan Jembatan Merah Putih yang kini berdiri kokoh menggantikan jembatan bambu yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi mobilitas warga, Kamis (11/6/2026)

Peresmian jembatan dilakukan bersama unsur Forkopimcam Cicalengka dan Rancaekek, pemerintah desa, serta TNI-Polri yang turut terlibat dalam proses pembangunannya.

"Alhamdulillah pada pagi hari ini kami bersama Forkopimcam Kecamatan Cicalengka dan Rancaekek, unsur desa, unsur pemerintah, TNI dan Polri meresmikan Jembatan Merah Putih," ujar Aldi.

Menurutnya, jembatan tersebut memiliki peran penting karena menghubungkan dua desa sekaligus dua kecamatan. Selama ini, akses itu digunakan oleh masyarakat untuk berbagai aktivitas, mulai dari anak-anak yang berangkat sekolah dan mengaji hingga para pekerja yang menuju tempat kerjanya.

"Dulunya jembatan ini adalah bambu. Ini menghubungkan dua desa dan dua kecamatan yang digunakan oleh anak-anak kita, baik sekolah ataupun mengaji, dan kondisinya sangat memprihatinkan," katanya.

Keberadaan jembatan bambu yang membahayakan itu rupanya bukan persoalan baru. Kondisi tersebut sudah lama dikeluhkan warga. Aspirasi itu kemudian sampai ke telinga aparat kepolisian melalui Bhabinkamtibmas yang rutin melakukan sambang ke masyarakat.

"Dari hasil sambang Bhabinkamtibmas, kami mendengar masukan dan keluhan masyarakat bahwa ada jembatan yang memang harus diperbaiki," ujar Aldi.

Dari keprihatinan itulah lahir semangat gotong royong. Berbagai unsur bergerak bersama mencari solusi agar warga tidak lagi dipaksa mempertaruhkan keselamatannya setiap kali melintas.

Pembangunan jembatan pun dilakukan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, unsur TNI-Polri, serta berbagai pihak lainnya. Aldi menyebut, kekuatan utama dari pembangunan tersebut adalah swadaya dan kebersamaan.

"Alhamdulillah ini hasil swadaya masyarakat, kerja sama dan kolaborasi semuanya, sehingga jembatan ini berhasil kita bangun," katanya.

Proses pembangunan berlangsung selama hampir dua bulan. Jembatan bambu yang selama ini hanya mengandalkan ikatan tali dan batang bambu kini telah berubah menjadi konstruksi cor beton yang diperkuat dengan besi.

Perubahan itu membawa harapan baru bagi masyarakat di kedua wilayah tersebut. Anak-anak tidak lagi harus berjalan dengan rasa takut saat berangkat sekolah atau mengaji. Begitu pula para buruh yang setiap hari melintasi jalur tersebut untuk mencari nafkah.

"Manfaatnya sangat banyak. Tentunya harapannya adalah ini bisa membantu masyarakat untuk memudahkan aktivitas, apakah itu sekolah, kemudian berangkat kerja dan sebagainya," tutur Aldi.

Bagi sebagian orang, jembatan beton mungkin hanyalah bangunan biasa. Namun bagi warga Desa Panenjoan dan Desa Nanjung Mekar, jembatan itu memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia menjadi simbol hadirnya kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini belum terpenuhi secara layak.

Jembatan Merah Putih bukan sekadar penghubung dua wilayah administratif. Ia menghubungkan anak-anak dengan cita-cita mereka, memperpendek perjalanan para pekerja menuju tempat mencari nafkah, sekaligus mengakhiri kecemasan yang selama bertahun-tahun menghantui setiap langkah warga di atas jembatan bambu yang rapuh.

Kini, tak ada lagi orang tua yang harus cemas ketika melepas anaknya berangkat sekolah melewati sungai. Tak ada lagi buruh yang terpaksa mempertaruhkan keselamatan demi tiba lebih cepat di tempat kerja.

Di atas Jembatan Merah Putih yang berdiri kokoh itu, harapan baru tumbuh. Sebab terkadang, pembangunan yang paling bermakna bukanlah yang paling megah, melainkan yang mampu membuat masyarakat merasa lebih aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.