JK Temui Prabowo di Istana, Bahas Investasi Energi Hijau Rp70 Triliun

Bagikan artikel:
Digo, - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, untuk membahas investasi jumbo di sektor energi hijau. Nilainya tak kecil, mencapai Rp60 triliun hingga Rp70 triliun.
Usai pertemuan, JK mengatakan pembicaraan dengan Presiden berlangsung cukup panjang dan berfokus pada upaya meningkatkan kapasitas energi nasional guna mendukung target swasembada energi.
"Kita bicara investasi kira-kira Rp60-Rp70 triliun," kata JK kepada awak media.
Investasi tersebut diarahkan untuk pengembangan pembangkit listrik, terutama energi bersih. Menurut JK, Kalla Group saat ini telah membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas sekitar 1.500 megawatt (MW).
Tak berhenti di situ, perusahaan itu juga siap menambah kapasitas pembangkit hingga 2.000 MW lagi. Pengembangannya mencakup PLTA dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG).
JK mengklaim pihaknya telah memiliki kesiapan teknis untuk menjalankan proyek tersebut apabila mendapat dukungan pemerintah.
"Kita sudah punya tempat-tempatnya, desainnya juga sudah ada," ujarnya.
Dorongan mempercepat pembangunan energi, kata JK, tak lepas dari ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Target pertumbuhan 5-6 persen, bahkan hingga 8 persen, dinilai akan sulit tercapai tanpa pasokan energi yang memadai.
"Jadi karena kita melihat bahwa untuk pertumbuhan ke negara 5-6 persen, bahkan sampai 8 persen, itu butuh energi luar biasa banyaknya. Karena itu, tanpa energi itu, kita akan sulit untuk meningkatkan itu," jelas JK.
Dalam pertemuan tersebut, JK menyebut Presiden Prabowo menyetujui langkah percepatan pembangunan sektor energi nasional, terutama energi hijau. Strategi itu dipandang penting bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga menjadi fondasi bagi ekspansi industri dan aktivitas ekonomi di masa depan.
Jika rencana investasi ini terealisasi, proyek energi hijau berpotensi menjadi salah satu investasi swasta terbesar di sektor ketenagalistrikan dalam beberapa tahun terakhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan proyek berjalan tepat waktu agar kebutuhan energi yang terus meningkat tidak menjadi penghambat target pertumbuhan ekonomi nasional.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





