Di Tengah Tekanan Global, Jawa Barat Justru Raup Surplus Dagang Rp145 Triliun
Kamis, 04 Juni 2026 08:30
Reporter : Tim Digo.id
DigoID – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Jawa Barat justru mencetak rapor perdagangan yang mencolok. Dalam empat bulan pertama 2026, neraca perdagangan provinsi ini mencatat surplus USD 8,90 miliar atau setara sekitar Rp145 triliun, ditopang lonjakan ekspor dan penurunan tajam impor.
Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa produk-produk Jawa Barat masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional, bahkan ketika sejumlah sektor ekonomi dunia sedang menghadapi tekanan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, mengungkapkan nilai ekspor Jawa Barat sepanjang Januari-April 2026 mencapai USD 12,58 miliar, naik 4,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan itu terutama didorong ekspor nonmigas yang mencapai USD 12,51 miliar atau tumbuh 4,30 persen. Sebaliknya, ekspor migas hanya sebesar USD 72,70 juta dan mengalami penurunan cukup dalam hingga 16,39 persen.
“Ekspor nonmigas terbesar selama Januari-April 2026 dilakukan ke Amerika Serikat dengan nilai USD 2,08 miliar, disusul Filipina sebesar USD 1,19 miliar dan Jepang sebesar USD 922,58 juta. Kontribusi ketiganya mencapai 33,53 persen,” kata Margaretha dalam Rilis Berita Resmi Statistik Jawa Barat, Selasa (2/6/2026).
Amerika Serikat masih menjadi pasar utama produk Jawa Barat. Sementara total ekspor ke kawasan ASEAN mencapai USD 3,47 miliar, sedangkan ke Amerika dan Eropa menembus USD 4,70 miliar.
Dari sisi komoditas, sektor kendaraan dan bagiannya menjadi bintang ekspor dengan kenaikan terbesar, yakni USD 297,95 juta atau tumbuh 11,80 persen. Sebaliknya, ekspor perhiasan dan permata mengalami penurunan paling tajam sebesar USD 73,59 juta atau turun 18,99 persen.
Secara sektoral, hampir seluruh sektor ekspor mencatat pertumbuhan. Sektor pertanian naik 4,21 persen, industri pengolahan tumbuh 4,30 persen, dan pertambangan serta sektor lainnya meningkat 2,20 persen. Hanya sektor migas yang masih tertekan.
Sementara itu, dari sisi impor, Jawa Barat justru mencatat penurunan signifikan. Nilai impor selama Januari-April 2026 hanya mencapai USD 3,68 miliar, turun 7,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan paling mencolok terjadi pada impor migas yang anjlok hingga 55,08 persen menjadi USD 232,36 juta. Sedangkan impor nonmigas tercatat USD 3,44 miliar, turun tipis 0,54 persen.
Komoditas kendaraan dan bagiannya menjadi kelompok impor yang mengalami penurunan terbesar, yakni USD 154,38 juta atau merosot 51,08 persen. Sebaliknya, impor mesin dan perlengkapan elektronik meningkat USD 97,19 juta atau tumbuh 18,25 persen.
Untuk negara asal impor, Tiongkok masih mendominasi dengan nilai USD 1,41 miliar atau berkontribusi 41,04 persen terhadap total impor nonmigas Jawa Barat. Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar USD 410,06 juta dan Korea Selatan sebesar USD 407,46 juta.
BPS juga mencatat seluruh kelompok penggunaan barang impor mengalami penurunan. Impor barang konsumsi turun 12,63 persen, bahan baku dan penolong turun 5,63 persen, sementara impor barang modal merosot 17,20 persen.
