Cucun: Santri Jangan Cuma Jadi Penonton, Harus Berani Masuk Ruang Kekuasaan

Bagikan artikel:
DigoID, – Santri diminta tidak hanya berkutat di lingkungan pesantren, tetapi berani menembus pemerintahan, dunia usaha hingga ruang pengambilan kebijakan. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menilai, bekal pendidikan pesantren bisa menjadi modal kepemimpinan, asalkan dibarengi kemandirian ekonomi dan kemampuan mengikuti perkembangan zaman.
Cucun menyampaikan hal itu saat menghadiri forum NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) sekaligus bedah buku biografinya, Dari Kobong Pesantren ke Parlemen, di Pondok Pesantren Al Masthuriyah, Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Rabu (4/11/2026).
Di hadapan ratusan kiai, santri dan alumni, Cucun menegaskan pesantren tidak boleh tertinggal dalam perubahan zaman. Namun, modernisasi juga tidak boleh membuat lembaga pendidikan Islam kehilangan identitas dan tradisi keilmuannya.
"Pesantren dan lembaga pendidikan Islam harus mampu beradaptasi, berinovasi, serta mengimbangi pesatnya perkembangan zaman global. Namun, modernisasi ini tidak boleh sedikit pun melepaskan diri dari jati diri santri dan tradisi luhur yang telah diwariskan oleh para ulama pendahulu kita," ujar Cucun.
Menurutnya, tantangan pesantren saat ini bukan hanya mencetak santri yang kuat dalam ilmu agama, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu mengambil peran di berbagai sektor kehidupan.
Santri, kata Cucun, memiliki modal kepemimpinan dari pengalaman hidup di pesantren. Mulai dari mengelola kehidupan kobong, menjalankan organisasi, hingga terbiasa dengan disiplin dan tanggung jawab.
Bekal tersebut harus dikembangkan agar alumni pesantren tidak merasa rendah diri ketika masuk ke dunia politik, pemerintahan maupun sektor profesional.
Dari kobong hingga parlemen
Cucun membagikan perjalanan hidupnya yang berangkat dari lingkungan Pesantren Cipasung hingga menjadi pimpinan DPR RI.
Perjalanan tersebut diulas dalam buku Dari Kobong Pesantren ke Parlemen yang ditulis Pungkit Wijaya dan Iip D. Yahya.
Buku itu mengisahkan perjalanan Cucun, termasuk ketika sempat menjadi sopir almarhum Ajengan KH M. Ilyas Ruhiat sebelum akhirnya menembus parlemen di Senayan.
Pengalaman tersebut menjadi pesan bagi santri bahwa latar belakang pesantren bukan penghalang untuk menduduki posisi strategis.
Cucun yang juga Ketua Umum Majelis Pimpinan Pusat Keluarga Alumni Pesantren Cipasung (MPP KAC) mendorong alumni pesantren berani terlibat dalam pembangunan nasional.
Menurutnya, santri tidak cukup hanya memiliki ilmu dan pengalaman organisasi. Mereka juga harus mampu memahami persoalan masyarakat serta mengambil bagian dalam menentukan arah kebijakan.
Pesantren harus punya kekuatan ekonomi
Selain kepemimpinan, Cucun menyoroti kemandirian ekonomi pesantren.
Ia menilai, ketergantungan terhadap bantuan pihak lain dapat membatasi kemampuan pesantren mengembangkan pendidikan dan fasilitasnya.
Karena itu, pesantren perlu mengoptimalkan aset yang dimiliki melalui unit usaha produktif dan pengelolaan dana abadi.
Pengalaman Cucun sebagai pengusaha tekstil menjadi salah satu bekal yang dibagikan kepada peserta diskusi.
"Kemauan memberi perlu ditopang kemampuan untuk memberi," ujarnya.
Menurut Cucun, pesantren harus memiliki kemampuan ekonomi agar dapat membiayai kebutuhan pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan santri secara berkelanjutan.
Ia juga mengajak alumni membangun jaringan usaha yang dapat mendukung perkembangan pesantren.
Dengan demikian, alumni tidak hanya membawa nama pesantren ke dunia profesional, tetapi juga ikut memperkuat lembaga yang telah mendidik mereka.
Data santri menentukan akses bantuan
Cucun juga mengingatkan pentingnya pembenahan administrasi pesantren, terutama pendataan santri.
Sebagai inisiator Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, ia menilai data yang akurat menjadi salah satu faktor penting dalam akses terhadap dukungan anggaran pemerintah.
Berdasarkan data per 4 Oktober 2026, Cucun mengungkapkan jumlah santri yang telah terverifikasi secara by name by address atau berdasarkan nama dan alamat mencapai lebih dari 4,6 juta jiwa.
Ia meminta alumni membantu pesantren kecil yang masih menghadapi persoalan legalitas kelembagaan dan pendataan santri.
Menurutnya, persoalan administrasi jangan sampai membuat pesantren kehilangan kesempatan memperoleh dukungan pemerintah.
Pengelolaan pesantren juga harus semakin tertib agar mampu memahami mekanisme kebijakan dan mengakses program yang tersedia.
Ilmu membawa santri ke mana saja
Di akhir diskusi, Cucun mengingatkan santri dan alumni agar tetap menjaga adab ketika memasuki lingkungan baru.
Menurutnya, ilmu pengetahuan dan kemampuan profesional dapat membuka kesempatan berkarier di berbagai sektor. Namun, karakter tetap menjadi penentu kepercayaan.
"Bawa adab kobong ke mana pun sahabat-sahabat pergi. Ilmu mengantar sampai ke ruang mana saja, dan adab yang menentukan kita dipercaya atau tidak di ruang itu," pungkas Cucun, yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP PKB.
Forum NGOPI dan bedah buku yang digelar Keluarga Alumni Pesantren Cipasung itu menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mendorong generasi muda pesantren mengambil peran lebih luas dalam pendidikan, ekonomi dan kebijakan publik.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






