digoNEWS

Cucun Ahmad Syamsurijal: Negara Harus Siap Hadapi Krisis, Jangan Tunggu Rakyat Menanggung Dampak

Rabu, 4 November 2026 pukul 10.24 WIB
11 views
Cucun Ahmad Syamsurijal: Negara Harus Siap Hadapi Krisis, Jangan Tunggu Rakyat Menanggung Dampak

Bagikan artikel:

DigoID, - Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengingatkan pemerintah agar tidak menunggu krisis datang untuk mengambil langkah penyelamatan ekonomi. Menurutnya, kebijakan fiskal harus dirancang sejak awal agar negara punya daya tahan ketika situasi ekonomi memburuk.

Pesan itu disampaikan Cucun saat bedah buku karyanya, Strategi Fiskal Nabi Yusuf, di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Cucun mengatakan, pengalaman Indonesia menghadapi pandemi Covid-19 menjadi titik awal penulisan buku tersebut. Saat mengawal kebijakan anggaran negara di tengah krisis, ia teringat kisah Nabi Yusuf AS yang mengatur keuangan dan persediaan pangan untuk menghadapi masa sulit.

“Benang merah yang kita ambil dari buku ini adalah mengajak bagaimana prinsip-prinsip penting kebijakan publik harus bekerja sebelum krisis. Bukan baru bergerak setelah rakyat harus menanggung akibatnya,” kata Cucun.

Menurut dia, kisah Nabi Yusuf bukan sekadar cerita keagamaan, tetapi juga bisa dibaca sebagai contoh manajemen keuangan publik yang menekankan antisipasi, perencanaan, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat.

Cucun mengaku, pengalaman pandemi membuatnya melihat kisah tersebut dari perspektif kebijakan publik. Ia kemudian menuangkan pemikirannya dalam buku yang membahas bagaimana strategi pengelolaan keuangan diterapkan sebelum krisis benar-benar terjadi.

“Yang diimplementasikan oleh Nabi Yusuf menjadi pola tata cara mengatur keuangan publik. Akhirnya saya tulis,” ujarnya.

Akademisi Islam Diminta Gali Strategi Nabi Yusuf

Cucun juga menyoroti minimnya kajian di perguruan tinggi Islam yang menghubungkan kisah kenabian dengan ilmu manajemen dan kebijakan publik modern.

Ia menilai, kampus seperti UIN seharusnya punya ruang lebih besar untuk mengembangkan riset yang menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan teori ekonomi dan tata kelola negara.

Menurut Cucun, gagasan tersebut justru telah lebih dulu dikembangkan di dunia Barat melalui konsep The Joseph Cycle atau Siklus Nabi Yusuf.

“Buku ini mengajak bagaimana kisah Nabi Yusuf melalui perspektif manajemen kebijakan publik. Yang anomalinya, di kita ini terutama di UIN, nggak pernah terpikirkan, padahal di dunia barat sana, sudah mulai ada konsep The Joseph Cycle, Siklus Nabi Yusuf. Dan ini dipakai oleh teori ekonomi barat,” katanya.

Melalui buku tersebut, Cucun berharap kisah Nabi Yusuf bisa menjadi bahan kajian akademis sekaligus sumber inspirasi bagi pembuat kebijakan dalam menyusun strategi ekonomi nasional.

Ia menekankan, nilai-nilai keislaman perlu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, terutama dalam pengelolaan keuangan negara dan menghadapi risiko krisis.

Bagi Cucun, pelajaran utamanya sederhana, negara harus punya strategi sebelum krisis datang, bukan baru mencari jalan keluar ketika masyarakat sudah terdampak.