digoNEWS

Cangkuang Kulon Bidik Pengelolaan Sampah Berbasis RW, Rumah Maggot Jadi Langkah Awal

Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 10.12 WIB
35 views
Cangkuang Kulon Bidik Pengelolaan Sampah Berbasis RW, Rumah Maggot Jadi Langkah Awal

Bagikan artikel:

DigoID, – Pemerintah Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, menyiapkan rumah maggot sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah yang nantinya ditargetkan berkembang hingga tingkat RW.

Program tersebut digarap bersama mahasiswa KKN Universitas Langlangbuana dan menjadi salah satu agenda dalam Lokakarya Akhir dan Seminar Sosialisasi Lingkungan bertajuk Aspek Hukum Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Kamis (20/8/2026).

Sekretaris Desa Cangkuang Kulon, Gun Gun Hidayat, mengatakan pembangunan rumah maggot sebenarnya telah masuk dalam perencanaan pemerintah desa melalui Dana Desa. Kehadiran mahasiswa KKN kemudian memperkuat rencana tersebut melalui program pengolahan sampah.

"Memang bertepatan dengan perencanaan Pemerintah Desa yang bersumber dari Dana Desa untuk pengadaan rumah maggot. Kemudian kami berkolaborasi dengan rekan-rekan mahasiswa," kata Gun Gun.

Menurut dia, rumah maggot yang saat ini berada di lingkungan kantor desa belum menjadi tujuan akhir. Fasilitas tersebut akan dijadikan tempat percontohan sebelum konsep serupa dikembangkan di lingkungan masyarakat.

"Untuk sementara, ini bisa dijadikan sebagai pilot project," ujarnya.

Pemerintah desa berharap pengolahan sampah berbasis maggot dapat diterapkan di setiap RW. Dengan begitu, penanganan sampah tidak hanya bergantung pada fasilitas di tingkat desa, tetapi dimulai dari lingkungan tempat warga tinggal.

"Harapannya rumah maggot tidak hanya ada di lingkungan kantor desa, tetapi bisa dikembangkan di setiap RW sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah di masyarakat," kata Gun Gun.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan dan pembuangan. Pengelolaan dari sumbernya membutuhkan keterlibatan masyarakat sekaligus dukungan teknologi dan pengetahuan.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Universitas Langlangbuana, Dr. (C) Suarman Gulo, mengatakan program KKN memang diarahkan agar mahasiswa tidak sekadar menerapkan teori, tetapi mampu menghasilkan solusi yang bisa digunakan masyarakat.

"Tujuan kami bukan hanya berbicara mengenai teori, tetapi juga praktik," kata Suarman.

Ia mengatakan mahasiswa harus dipersiapkan menghadapi persoalan nyata di masyarakat, termasuk persoalan lingkungan. Karena itu, pengolahan sampah dipilih menjadi salah satu program unggulan selama KKN di Cangkuang Kulon.

Menurut Suarman, rumah maggot tidak hanya berfungsi sebagai sarana mengurangi sampah organik. Jika dikelola secara serius, program tersebut juga berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekaligus memberikan nilai ekonomi," ujarnya.

Suarman juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan lebih besar kepada desa-desa yang mengembangkan pengelolaan sampah dari tingkat paling bawah.

Ia menilai anggaran penanganan sampah seharusnya tidak hanya diarahkan untuk pengelolaan di tingkat hilir. Desa, kata dia, perlu diperkuat agar mampu menangani sampah sejak dari sumbernya.

"Kalau pemerintah provinsi mengeluarkan anggaran yang besar hanya untuk pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir, menurut kami lebih baik dana tersebut juga diberikan kepada desa," katanya.

Ia secara khusus berharap Cangkuang Kulon dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis desa yang dapat direplikasi di wilayah lain.

"Kami berharap Desa Cangkuang Kulon ini bisa menjadi ikon dalam penanganan sampah," ujar Suarman.

Di sisi lain, Gun Gun mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut. Ia menilai KKN menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

"Ilmu yang didapat selama perkuliahan di universitas bisa direalisasikan ataupun diaktualisasikan sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat Desa Cangkuang Kulon," katanya.

Saat lokakarya digelar, mahasiswa KKN telah menjalani sekitar 20 hari kegiatan di Desa Cangkuang Kulon dan masih memiliki waktu sekitar tujuh hari.

Pemerintah desa berharap kolaborasi yang telah dimulai tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan desa. Pengembangan rumah maggot ke setiap RW menjadi langkah lanjutan yang tengah disiapkan untuk memperluas pengelolaan sampah berbasis masyarakat.