BPBD Bandung Petakan Wilayah Rawan Bencana, Longsor dan Banjir Mengintai Saat Hujan Deras

Bagikan artikel:
DigoID, - Ancaman banjir dan tanah longsor mulai membayangi Kota Bandung saat musim hujan memasuki tahap awal. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung mencatat dua kejadian longsor dalam sepekan terakhir, sementara genangan masih muncul di sejumlah titik, termasuk Margacinta dan Kopo.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, mengatakan kawasan utara menjadi wilayah yang perlu diwaspadai karena memiliki potensi tanah longsor.
Wilayah tersebut membentang mulai dari Cidadap hingga Cibiru dan Ujungberung.
Sementara itu, ancaman banjir tersebar di kawasan tengah hingga utara Kota Bandung, baik wilayah barat maupun timur.
“Sekarang proses pengerukan terus berjalan dilakukan oleh DSDABM (Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga). Mudah-mudahan itu bisa mengurangi dampak dari banjir,” ujar Didi, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Didi, pemeliharaan drainase menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko banjir ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur Kota Bandung.
Saluran air yang tersumbat sampah dan sedimentasi berpotensi menghambat aliran air. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko genangan, terutama ketika debit air meningkat dalam waktu singkat.
Karena itu, pengerukan saluran terus dilakukan untuk menjaga kapasitas aliran tetap optimal.
Ancaman bencana bukan sekadar potensi. BPBD mencatat dua kejadian tanah longsor dalam sepekan terakhir.
Salah satu kejadian dengan risiko cukup besar terjadi di kawasan Cikalintu.
Sementara itu, longsor di Cidadap berupa tebing yang mengalami pergerakan dengan dampak relatif terbatas.
Di sisi lain, genangan air masih terjadi di kawasan Margacinta dan Kopo.
Khusus di Kopo, sekitar tiga titik genangan tercatat saat hujan deras mengguyur Kota Bandung.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim penghujan baru memasuki tahap awal. Potensi hujan dengan intensitas tinggi masih perlu diantisipasi dalam beberapa pekan ke depan.
Didi mengingatkan, masyarakat tidak boleh menganggap genangan sebagai persoalan sepele.
Selain mengganggu aktivitas dan mobilitas, genangan yang diterobos saat hujan deras juga berpotensi membahayakan keselamatan.
BPBD menyiapkan dua pendekatan utama untuk mengurangi risiko bencana selama musim hujan.
Pertama, melalui pemeliharaan infrastruktur, terutama saluran drainase dan aliran air.
Kedua, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sekitar sempadan sungai.
Warga diminta mengenali perubahan kondisi sungai ketika debit air meningkat. Tanda-tanda tersebut perlu menjadi perhatian sebelum air meluap dan mengancam permukiman.
“Kenali ciri-ciri sungai ketika akan meluap. Kemudian, sudah punya rencana harus evakuasi ke mana dan bagaimana pengamanan asetnya,” jelas Didi.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan penanganan pemerintah ketika bencana sudah terjadi.
Masyarakat perlu mengetahui potensi ancaman di lingkungan masing-masing serta menentukan langkah penyelamatan yang sesuai.
Sebab, pola evakuasi setiap bencana berbeda.
Ketika terjadi angin kencang, warga diminta berlindung di dalam rumah. Sebaliknya, saat gempa bumi, masyarakat perlu segera keluar dari bangunan menuju tempat aman.
“Kalau angin kencang, masyarakat harus berlindung di dalam rumah. Sementara kalau gempa, harus keluar rumah. Jadi, kenali jenis bencananya karena pola evakuasinya berbeda,” tuturnya.
Didi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menerobos genangan ketika hujan deras.
Kondisi air yang terlihat dangkal belum tentu aman dilalui. Karena itu, warga diminta menghindari tindakan yang berisiko dan mengutamakan keselamatan.
BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama warga yang tinggal di kawasan rawan longsor, sekitar sungai, serta wilayah yang kerap mengalami genangan.
Dengan musim hujan yang masih berlangsung, kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak bencana di Kota Bandung.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






