Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Tercapai, Teheran Langsung Membantah

Bagikan artikel:
DigooID, - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya telah mencapai kesepakatan damai besar dengan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Bersamaan dengan itu, Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada Kamis (11/6/2026) malam waktu setempat.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval Gedung Putih. Ia menyebut draf kesepakatan telah disetujui para pihak dan kini tinggal menunggu proses finalisasi dokumen resmi.
Trump juga berjanji akan membuka kembali Selat Hormuz untuk menjamin kelancaran distribusi energi global apabila kesepakatan benar-benar ditandatangani.
"Diskusi dan poin-poin akhir, baik dalam konsep maupun detail besar, telah disetujui oleh semua pihak yang terlibat," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Dalam unggahannya, Trump menyebut sejumlah negara yang diklaim mendukung langkah tersebut, di antaranya Amerika Serikat, Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Mesir.
Keputusan itu berbanding terbalik dengan pernyataan Trump beberapa jam sebelumnya. Saat itu, ia sempat mengancam akan menggempur Iran "sangat keras malam ini" sebagai respons atas eskalasi konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.
Namun, Gedung Putih kemudian menyatakan jalur diplomasi telah mencapai titik temu di tingkat kepemimpinan tertinggi Iran sehingga opsi militer ditangguhkan.
Meski demikian, klaim Washington segera dibantah Teheran.
Media pemerintah Iran, Fars, melaporkan bahwa otoritas Iran belum menyetujui teks apa pun terkait nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.
Fars bahkan menilai perubahan sikap Trump lebih mencerminkan langkah mundur dari ancaman militernya.
"Realitas yang terjadi hingga saat ini adalah, tidak hanya Iran belum memberikan respons akhir, tetapi pihak Amerika Serikat lah yang sebenarnya telah kembali ke tuntutan mereka yang sebelumnya," tulis Fars dalam laporannya.
Iran menyebut peluang perdamaian memang masih terbuka. Namun, proses itu disebut masih membutuhkan peninjauan lebih lanjut terhadap isi perjanjian yang dibahas kedua pihak.
Sementara itu, Israel mengonfirmasi adanya komunikasi langsung antara Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait perkembangan negosiasi tersebut.
Kantor Netanyahu menyatakan Israel menghargai komitmen Washington untuk tetap memasukkan pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran dalam setiap kesepakatan final.
"Meskipun Israel bukan merupakan bagian dari negosiasi langsung dengan Iran, Perdana Menteri sangat mengapresiasi komitmen Trump bahwa kesepakatan akhir akan tetap mencakup berbagai pembatasan ketat terhadap kemampuan nuklir Iran," demikian pernyataan resmi kantor Netanyahu.
Ketidakjelasan status kesepakatan itu belum menghentikan respons pasar global.
Pengumuman pembatalan serangan langsung mendorong penguatan indeks saham internasional. Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia dilaporkan turun tajam karena meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Namun, ketegangan belum sepenuhnya berakhir.
Militer Amerika Serikat menegaskan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan logistik Iran di Teluk Oman tetap diberlakukan. Langkah tersebut baru akan dicabut setelah seluruh dokumen perdamaian ditandatangani dan memiliki kekuatan hukum.
Dengan klaim damai dari Washington yang dibantah Teheran, masa depan perundingan masih diliputi ketidakpastian. Di tengah optimisme pasar, dunia kini menunggu apakah pengumuman Trump benar-benar menjadi awal berakhirnya konflik, atau sekadar episode baru dalam tarik-ulur diplomasi antara dua negara yang telah lama berseteru.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





