digoNEWS

Tiga Tanggul Sungai Cisungalah Masih Rawan Jebol, Bupati Bandung Minta Segera Diperbaiki

Selasa, 11 Agustus 2026 pukul 19.34 WIB
29 views
Tiga Tanggul Sungai Cisungalah Masih Rawan Jebol, Bupati Bandung Minta Segera Diperbaiki

Bagikan artikel:

DigoID, - Tiga dari 13 titik tanggul Sungai Cisungalah di Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, masih belum diperbaiki. Kondisi ini menjadi perhatian karena tanggul tersebut berpotensi jebol saat hujan deras dan kembali memicu banjir ke permukiman warga.

Bupati Bandung Dadang Supriatna meminta tiga titik Tembok Penahan Tanah (TPT) itu segera ditangani sebelum musim hujan tiba.

Instruksi tersebut disampaikan Dadang saat menghadiri kegiatan tasyakur atas program normalisasi Sungai Cisungalah di kawasan SDN Panyadap, Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk, Selasa (11/8/2026).

"Sebab jika tidak segera dibangun atau diperbaiki sangat besar biayanya bila terjadi jebol saat turun hujan. Makanya, TPT di tiga titik harus segera dibangun, karena ini menyangkut keselamatan dan nyawa manusia," kata Dadang.

Dia menyinggung kejadian sebelumnya ketika tanggul Sungai Cisungalah jebol sepanjang sekitar tiga meter. Dampaknya, sekitar 200 rumah warga terdampak banjir.

Karena itu, Dadang meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Bandung segera menghitung kebutuhan anggaran sekaligus mengirimkan material untuk mempercepat pengerjaan tiga titik tanggul tersebut.

"Ini mumpung masih musim kemarau. Harus segera dibangun," ujarnya.

Program normalisasi Sungai Cisungalah sendiri membentang sekitar lima kilometer, dari muara Sungai Citarik hingga hulu Sungai Cisungalah di Desa Bojong, Kecamatan Majalaya.

Selama program berjalan, 10 dari 13 titik TPT yang sebelumnya ambruk telah diperbaiki melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan sejumlah pihak lainnya.

Namun, pekerjaan belum sepenuhnya aman.

Ketua Pentahelix Kecamatan Solokanjeruk Asep Hana Kirana mengatakan masih ada dua titik tanggul yang dinilai cukup rawan, masing-masing memiliki panjang sekitar 15 meter dan 26 meter.

"TPT yang belum diperbaiki kami berharap kepada dinas dan BBWS Citarum untuk segera memperbaikinya. Karena khawatir jebol saat turun hujan dan aliran air sungai meluap," kata Asep.

Menurut Asep, pengerjaan tiga titik tersebut belum bisa sepenuhnya mengandalkan skema pentahelix. Dibutuhkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

Persoalan lain muncul pada proses pengerukan sungai.

Asep mengatakan masih terdapat saluran yang tertutup endapan lumpur sehingga menghambat pengairan lahan pertanian. Di sejumlah lokasi, alat berat juga belum bisa masuk karena terhalang bangunan.

Akibatnya, warga terpaksa melakukan pengerjaan secara manual.

"Akhirnya dikerjakan dengan cara swadaya atau gotong royong warga masyarakat dengan menggunakan alat manual. Kami berharap alat berat bisa masuk ke lokasi pengerjaan pengerukan," ujarnya.

Sungai Makin Dalam, Tapi Tetap Perlu Dilebarkan

Normalisasi yang dilakukan tidak hanya berupa pengerukan. Pemkab Bandung tetap mendorong pelebaran Sungai Cisungalah hingga delapan meter sebagai bagian dari solusi jangka panjang penanganan banjir.

Dadang mengatakan pengerukan saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan ketika debit air dari bagian hulu meningkat.

"Kalau debit airnya lebih tinggi dari hulu Sungai Cisungalah, sehingga harus ada pelebaran sungai," katanya.

Menurut dia, kedalaman aliran Sungai Cisungalah yang sebelumnya rata-rata sekitar dua meter kini di sejumlah titik sudah mencapai enam meter setelah dilakukan pengerukan.

Meski begitu, pelebaran sungai menghadapi persoalan pembebasan lahan.

Dadang menyebut pemerintah tidak akan melakukan pembebasan lahan untuk skema pelebaran tersebut.

"Wayahna tidak ada pembebasan lahan. Karena tidak cukup hanya dengan pengerukan saja, tetapi harus ada tindaklanjut dalam penanganan banjir Sungai Cisungalah," ujarnya.

Dia meminta camat dan kepala desa segera menyosialisasikan rencana tersebut kepada warga.

Program normalisasi Sungai Cisungalah menjadi salah satu contoh penanganan banjir melalui skema pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan unsur lainnya.

Camat Solokanjeruk Rahmatullah Mukti Prabowo mengatakan pengerukan Sungai Cisungalah dilakukan setelah sekitar 15 tahun tidak mendapat penanganan pengerukan secara signifikan.

"Alhamdulillah dengan adanya program pentahelix mendapatkan antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Dengan dana yang terbatas dibarengi dengan gotong royong warga sekitar sangat luar biasa, dari mulai pengerukan sampai pembangunan TPT," kata Prabowo.

Dia berharap tiga tanggul yang tersisa bisa segera diperbaiki dengan dukungan pemerintah daerah dan dinas teknis.

Sementara itu, Dadang meminta seluruh proses bantuan dan pengerjaan dilaporkan secara terbuka. Menurutnya, transparansi menjadi salah satu kunci agar pola gotong royong tersebut tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

"Kita harus betul-betul transparan. Karena kunci keberhasilan dalam program pentahelix itu amanah dalam melaksanakan tugas," ujarnya.

Program pentahelix penanganan sungai dan banjir juga diterapkan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Bandung, antara lain Majalaya, Bojongsoang, Dayeuhkolot dan Banjaran. Total terdapat 12 titik program pentahelix yang disebut masih berjalan.

Pemkab Bandung berharap normalisasi Sungai Cisungalah dapat menekan risiko banjir, terutama di Desa Panyadap dan wilayah sekitarnya.

Namun, sebelum target itu tercapai, tiga titik tanggul yang masih rawan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum hujan kembali menguji kekuatan tanggul di sepanjang aliran sungai tersebut.