digoNEWS

Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kabupaten Bandung Baru 23,85 Persen, 600 Guru Ngaji Dibekali Metode Mengajar

Senin, 10 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB
26 views
Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kabupaten Bandung Baru 23,85 Persen, 600 Guru Ngaji Dibekali Metode Mengajar

Bagikan artikel:

DigoID, Kemampuan baca tulis Al-Qur’an (BTQ) siswa SD dan SMP di Kabupaten Bandung disebut baru mencapai 23,85 persen. Kondisi itu mendorong Persatuan Guru Ngaji Kabupaten Bandung (PGN-KB) menggelar bimbingan teknis untuk meningkatkan kemampuan para pengajar Al-Qur’an.

Sebanyak sekitar 600 guru ngaji dan pengurus PGN-KB mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Guru Ngaji Kabupaten Bandung 2026 di Gedung Moh. Toha, Soreang, Senin (10/8/2026). Kegiatan dibuka Bupati Bandung Dadang Supriatna.

Ketua PGN-KB H Uya Mulyana mengatakan angka 23,85 persen tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan bimtek. Data itu, kata dia, berasal dari hasil survei yang dilakukan tim dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terhadap siswa SD dan SMP di Kabupaten Bandung.

"Karena hasil survei menunjukkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa baru 23,85 persen, kami merasa perlu melakukan bimbingan teknis. Guru ngaji harus dibekali cara mengajar Al-Qur’an yang baik dan cepat kepada siswa," kata Uya.

Bimtek tersebut tidak dilakukan sekaligus. Para peserta dibagi dalam tiga hari dengan masing-masing sekitar 200 orang per hari.

Peserta berasal dari perwakilan guru ngaji di tingkat desa. Dari sekitar 280 desa dan kelurahan di Kabupaten Bandung, masing-masing wilayah mengirimkan dua guru ngaji. Jumlah tersebut kemudian ditambah jajaran pengurus PGN-KB.

Menurut Uya, peningkatan kemampuan mengajar guru ngaji dinilai penting karena mereka tidak hanya berperan dalam mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak anak.

Materi bimtek salah satunya membahas persoalan kenakalan pelajar. Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat peran guru ngaji dalam pendidikan akhlak di tengah persoalan perilaku siswa.

"Guru ngaji bukan hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an. Ada pendidikan akhlak yang harus disampaikan kepada siswa. Ini yang juga ingin kami kuatkan," ujarnya.

Selain itu, peserta mendapatkan materi mengenai metode pengajaran Al-Qur’an. PGN-KB menghadirkan Dr. Masudi bersama tim untuk memberikan pelatihan mengenai teknik pembacaan Al-Qur’an kepada siswa.

Sementara Prof. Dr. Udin dijadwalkan memaparkan hasil survei kemampuan BTQ sekaligus langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan capaian tersebut.

Uya mengatakan program peningkatan kapasitas guru ngaji juga berkaitan dengan program Maghrib Mengaji yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bandung.

Guru ngaji yang menjadi peserta program, kata dia, tidak hanya dituntut memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga memiliki tempat atau lembaga untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pengajaran dapat dilakukan di rumah, majelis maupun mushala.

"Ini menjadi penunjang untuk program Maghrib Mengaji ke depan. Guru ngaji harus memiliki tempat untuk mengajar dan membimbing anak-anak, baik di rumah maupun di mushala," katanya.

Dengan pola tersebut, PGN-KB berharap keberadaan guru ngaji di setiap wilayah tidak sekadar memenuhi kebutuhan pengajaran keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan BTQ dan membentuk karakter pelajar di Kabupaten Bandung.

Bimtek peningkatan kapasitas guru ngaji itu berlangsung selama tiga hari dengan total sekitar 600 peserta. Materi diberikan secara bertahap sesuai pembagian peserta setiap harinya.