Sulit Cari Kerja di Era AI dan PHK, Gen Z hingga Milenial Pilih Jadi Freelancer hingga Kerja Serabutan

Bagikan artikel:
DigoID, - Mencari kerja di Indonesia kini bukan lagi sekadar soal mengirim CV dan menunggu panggilan wawancara. Persaingan yang makin ketat, gelombang PHK, hingga kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat banyak anak muda harus mengubah cara bertahan hidup.
Fenomena ini tak hanya dirasakan Gen Z yang baru lulus kuliah, tetapi juga Milenial hingga Generasi X. Di tengah menyempitnya lapangan kerja formal, banyak orang mulai meninggalkan pola kerja konvensional dan memilih berbagai strategi alternatif demi menjaga pemasukan.
Salah satu yang paling terlihat adalah pergeseran ke sektor informal. Pekerjaan freelance, industri kreatif, hingga usaha mikro menjadi pilihan utama ketika kursi di perkantoran semakin sulit diperebutkan.
Mulai dari menjadi content creator, desainer lepas, admin media sosial, hingga membuka toko online dan berjualan makanan, banyak orang kini tak lagi mengejar status karyawan tetap. Bagi sebagian orang, yang terpenting bukan lagi jabatan, melainkan kepastian ada uang yang masuk setiap bulan.
Tren lain yang terus meningkat adalah polyworking atau memiliki lebih dari satu pekerjaan. Pagi bekerja sebagai staf administrasi, malam menjadi driver online atau mengelola bisnis kecil dari rumah.
Strategi ini dikenal sebagai "career cushioning", yakni menciptakan bantalan ekonomi jika sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan utama. Kondisi pasar kerja yang tidak menentu membuat mengandalkan satu sumber pendapatan dianggap terlalu berisiko.
Di sisi lain, persaingan juga memaksa banyak pencari kerja menurunkan ekspektasi. Fenomena lulusan sarjana yang melamar pekerjaan dengan syarat pendidikan SMA/SMK kini menjadi pemandangan umum.
Tak sedikit yang menerima gaji di bawah harapan, bahkan di bawah standar yang mereka bayangkan saat masih kuliah. Bagi sebagian pencari kerja, mendapatkan pengalaman dan pemasukan dinilai lebih penting dibanding menunggu pekerjaan ideal yang belum tentu datang.
Tekanan tersebut juga memicu perubahan cara anak muda mempersiapkan diri. Mereka mulai mengejar sertifikasi profesional dan mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan industri.
Bidang seperti AI, analisis data, dan pemasaran digital menjadi incaran. Alih-alih melihat AI sebagai ancaman semata, banyak pencari kerja justru mencoba memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas dan nilai jual mereka di hadapan perekrut.
Namun, tidak semua orang memiliki ruang untuk beradaptasi dengan cepat. Sebagian memilih kembali tinggal bersama orang tua untuk mengurangi biaya hidup. Tren co-living antaranggota keluarga semakin lazim, terutama di kota-kota besar dengan biaya hidup yang terus meningkat.
Dalam sejumlah kasus, kondisi ekonomi keluarga bahkan memaksa orang tua yang sudah memasuki usia lanjut tetap bekerja demi membantu menopang kebutuhan rumah tangga.
Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan mencari kerja saat ini bukan hanya persoalan individu, tetapi juga menyentuh ketahanan ekonomi keluarga. Di tengah ketidakpastian pasar tenaga kerja, kemampuan beradaptasi menjadi modal yang sama pentingnya dengan ijazah dan pengalaman.
Bagi banyak orang, bertahan hidup kini bukan soal menemukan pekerjaan impian, melainkan memastikan ada pekerjaan yang bisa dijalani esok hari.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






