digoLIFE

87% Gen Z Sudah Pakai AI, Apakah Kita Sedang Memasuki Era Baru Internet?

Rabu, 15 Juli 2026 pukul 11.00 WIB
18 views
87% Gen Z Sudah Pakai AI, Apakah Kita Sedang Memasuki Era Baru Internet?

Bagikan artikel:

DigoID, - Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi teknologi masa depan. Bagi Gen Z dan Milenial, AI sudah menjadi alat harian yang dipakai untuk belajar, bekerja, hingga mengatur pengeluaran rumah tangga.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang membuka chatbot AI seperti ChatGPT untuk mencari jawaban cepat, merangkum informasi, hingga mendapatkan ide kreatif. Bahkan, sebagian Gen Z mulai mengurangi ketergantungan pada mesin pencari konvensional seperti Google.

Di ruang kelas, AI dimanfaatkan untuk merangkum materi pelajaran, menerjemahkan bahasa asing, dan membantu menyusun kerangka tugas. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran soal ketergantungan berlebihan dan potensi menurunnya kemampuan berpikir kritis jika teknologi ini digunakan tanpa kontrol.

“Kalau dulu buka Google lalu baca banyak situs, sekarang cukup tanya chatbot dan jawabannya langsung muncul,” kata Keysha, salah seorang mahasiswi di Bandung yang mengaku menggunakan AI hampir setiap hari untuk menyelesaikan tugas kuliah.

Tak hanya Gen Z, kalangan Milenial juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Di kantor, AI dipakai untuk menulis email, merangkum hasil rapat, menyusun laporan, hingga membantu membuat presentasi dalam hitungan menit.

Perubahan pola kerja ini terjadi cukup masif. Sejumlah survei di Indonesia menunjukkan 87 persen Gen Z dan 88 persen Milenial telah menggunakan AI dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari. Angka tersebut menempatkan AI sebagai salah satu teknologi dengan tingkat adopsi tercepat di lingkungan kerja.

AI juga mulai masuk ke urusan yang lebih personal. Banyak pengguna memanfaatkan aplikasi berbasis AI untuk mengatur anggaran bulanan, memantau pengeluaran, hingga membandingkan harga kebutuhan pokok secara otomatis sebelum berbelanja.

Bagi keluarga muda, teknologi ini bahkan menjadi “asisten digital”. Mulai dari menyusun menu makan selama sepekan, memberikan rekomendasi resep berdasarkan bahan yang tersedia di rumah, hingga membantu membuat daftar belanja yang lebih hemat.

Di sektor hiburan, AI digunakan untuk merekomendasikan film, musik, dan podcast sesuai preferensi pengguna. Beberapa aplikasi kesehatan berbasis AI juga mulai dipakai untuk memantau pola tidur, menghitung kalori, dan menyusun jadwal olahraga.

Ledakan penggunaan AI menunjukkan adanya pergeseran besar dalam cara masyarakat mengakses informasi. Jika satu dekade lalu internet menjadi alat utama, kini AI mulai mengambil peran sebagai pintu pertama untuk mencari jawaban.

Meski demikian, para pengamat teknologi mengingatkan bahwa AI bukan sumber yang selalu benar. Chatbot masih dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak memiliki konteks yang utuh.

“AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan,” ujar seorang praktisi teknologi informasi.

Dengan tingkat adopsi yang sudah menembus lebih dari 80 persen di kalangan Gen Z dan Milenial, AI diperkirakan akan semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah cara hidup manusia, melainkan seberapa jauh manusia siap hidup berdampingan dengan teknologi yang kini bisa diajak berbicara layaknya teman sendiri.