digoLIFE

Red Flag atau Green Flag? Kebiasaan Mengabari Pasangan Sebelum Pergi Jadi Perdebatan Anak Muda

Jumat, 17 Juli 2026 pukul 09.30 WIB
23 views
Red Flag atau Green Flag? Kebiasaan Mengabari Pasangan Sebelum Pergi Jadi Perdebatan Anak Muda

Bagikan artikel:

DigoID, - Mengabari pasangan sebelum pergi ke suatu tempat kini bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi sudah menjadi perdebatan di kalangan anak muda. Di tengah era media sosial dan komunikasi instan, pertanyaan sederhana seperti, "Kamu ke mana?" bisa diartikan sebagai bentuk perhatian atau justru dianggap sebagai tanda hubungan yang tidak sehat.

Topik ini ramai dibahas di berbagai platform digital. Sebagian orang menilai memberi kabar kepada pasangan adalah green flag karena menunjukkan rasa hormat, keterbukaan, dan kepedulian. Namun, sebagian lainnya menganggap kebiasaan tersebut bisa berubah menjadi red flag jika dilakukan secara berlebihan.

Perdebatan itu muncul karena setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda dalam sebuah hubungan. Ada yang merasa tenang jika mengetahui aktivitas pasangannya, tetapi ada pula yang merasa kebebasan pribadinya terganggu.

Pada dasarnya, mengabari pasangan bukanlah soal meminta izin seperti kepada atasan di tempat kerja. Kebiasaan ini lebih dekat dengan bentuk komunikasi yang sehat.

Dalam hubungan, rasa hormat menjadi salah satu fondasi utama. Memberi tahu pasangan saat hendak pergi menunjukkan bahwa seseorang menganggap pasangannya sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Selain itu, faktor keamanan juga menjadi alasan yang sering diabaikan. Jika terjadi situasi darurat, seperti kendaraan mogok, kecelakaan, atau kendala lain, pasangan setidaknya mengetahui lokasi atau tujuan terakhir.

Tidak sedikit pula yang mengaku lebih tenang ketika pasangannya memberi kabar. Sebab, ketika seseorang tiba-tiba sulit dihubungi tanpa penjelasan, kekhawatiran sering berubah menjadi overthinking.

Kepercayaan juga dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Keterbukaan mengenai aktivitas sehari-hari dapat membuat pasangan merasa lebih aman dan mengurangi prasangka yang tidak perlu.

Meski demikian, ada batas yang perlu dipahami. Mengabari pasangan bukan berarti wajib mengirim foto lokasi setiap saat, membagikan live location selama 24 jam, atau melapor setiap beberapa menit.

Banyak konselor hubungan menyebut, kebiasaan berkabar mulai berubah menjadi perilaku posesif ketika salah satu pihak merasa kehilangan kebebasan, takut dimarahi saat terlambat membalas pesan, atau terus-menerus diawasi.

Tanda-tanda hubungan mulai memasuki fase tidak sehat antara lain:

  • Pasangan meminta lokasi secara real-time setiap waktu.

  • Marah ketika pesan tidak dibalas dalam hitungan menit.

  • Membatasi pertemanan dan aktivitas pribadi.

  • Membuat pasangan merasa bersalah karena ingin memiliki waktu sendiri.

  • Menjadikan "peduli" sebagai alasan untuk mengontrol.

Sebaliknya, green flag dalam kebiasaan berkabar biasanya ditandai dengan komunikasi yang santai dan tanpa paksaan.

Contohnya sederhana: "Aku ke kafe sama teman kantor, nanti pulang agak malam ya." Pesan singkat seperti itu sering kali cukup untuk memberikan rasa tenang tanpa mengurangi kebebasan masing-masing.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda semakin sadar pentingnya batasan dalam hubungan. Istilah seperti red flag, green flag, toxic relationship, hingga attachment style kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di media sosial.

Pada akhirnya, tidak ada aturan baku soal seberapa sering seseorang harus mengabari pasangannya. Yang terpenting adalah adanya kesepakatan dan rasa saling menghargai.

Sebab, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak mengontrol, melainkan tentang bagaimana dua orang bisa membuat satu sama lain merasa aman, dipercaya, dan tetap menjadi dirinya sendiri.

Jadi, menurutmu, kebiasaan mengabari pasangan sebelum pergi itu termasuk green flag atau justru red flag?