digoNEWS

Silau Jabatan Numpang: Mengapa Orang Dekat Pejabat Sering Arogan?

Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 07.11 WIB
39 views
Silau Jabatan Numpang: Mengapa Orang Dekat Pejabat Sering Arogan?

Bagikan artikel:

Oleh: Idat Mustari

DigoID, - Media sosial baru-baru ini kembali diebohkan oleh aksi arogansi seorang ajudan pejabat publik di Kalimantan Timur. Dalam sebuah video yang viral, oknum ajudan tersebut terlihat bersikap represif terhadap mahasiswa yang sedang berdemo menyampaikan aspirasi terkait kebakaran hutan dan lahan. Buntut dari kegeraman netizen, pihak Kepolisian Daerah setempat akhirnya menarik oknum tersebut dari tugasnya, yang kemudian diikuti oleh video permintaan maafnya yang lesu.

Peristiwa ini menambah panjang daftar kelakuan minus orang-orang di lingkar dalam pusaran kekuasaan. Di ranah sosiologi dan psikologi sosial, fenomena menggelikan ini dikenal dengan istilah power by proxy, atau secara populer disebut "sindrom ajudan." Ini adalah sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa memiliki kuasa penuh yang sah, semata-mata karena kedekatan fisiknya dengan sang pemilik kekuasaan asli.

Secara psikologis, sikap angkuh yang ditunjukkan oleh para "penjaga gerbang" ini sebenarnya lahir dari rasa tidak aman yang mendalam. Mereka yang mengidap sindrom ini biasanya sangat haus akan pengakuan dan penghormatan dari lingkungan sekitarnya. Karena secara pribadi tidak memiliki otoritas hukum atau jabatan politik yang sah, mereka pun terpaksa "meminjam" karisma dan kekuasaan bos mereka agar diri mereka dianggap penting oleh orang lain.

Ironisnya, perilaku para ajudan ini sering kali jauh lebih agresif dan galak dibandingkan pejabat aslinya. Sang pejabat mungkin sudah terbiasa dengan protokol yang ketat dan riuhnya kritik masyarakat. Namun, sang ajudan justru merasa harga diri sang pejabat—atau lebih tepatnya ego mereka sendiri—sedang dipertaruhkan. Akibatnya, muncul tindakan over-reaktif yang tidak perlu, seperti menyenggol kasar atau menepis ponsel warga, yang sebenarnya bisa menurunkan simpati masyarakat pada pemimpinnya.

Bagi kita yang telah hidup lebih dari setengah abad, menyaksikan drama-drama sektoral seperti ini sering kali hanya memicu senyum getir di dalam hati. Jam terbang kehidupan mengajarkan kita sebuah kebenaran universal bahwa kekuasaan itu selalu ada batasnya dan ia tidak pernah abadi. Sangat menggelikan melihat bagaimana seseorang bisa begitu sombong atas panggung sandiwara yang sebenarnya bukan miliknya sendiri.

Mereka yang silau oleh kilau kekuasaan temporer ini lupa bahwa panggung itu bisa runtuh dalam semalam. Ketika jabatan sang atasan berakhir, atau ketika mereka dibebastugaskan seperti kasus di Kalimantan Timur, semua atribut "kemegahan" itu langsung lenyap tanpa sisa. Pada akhirnya, mereka harus melepas seragam kebesaran itu dan kembali menjadi manusia biasa di tengah masyarakat tanpa pengawalan.

Kasus ini harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh aparatur sipil, militer, tenaga pengamanan, dan siapa saja yang melekat pada pejabat publik. Menjadi orang dekat pemimpin bukanlah lisensi gratis untuk menjadi arogan, sombong, dan angkuh. Sebaliknya, posisi itu adalah sebuah amanah untuk menunjukkan wajah kekuasaan yang mengayomi dan merangkul, bukan memukul.

Kekuasaan sejati tidak pernah diukur dari seberapa keras kita bisa menepis tangan rakyat yang menuntut keadilan, melainkan dari seberapa bijak kita mau duduk dan mendengarkan suara mereka. Sebelum waktu dan usia yang memaksa kita sadar akan kefanaan dunia, ada baiknya para pengidap power by proxy ini mulai belajar menurunkan ego mereka. Sebab di atas langit selalu ada langit, dan di atas kekuasaan manusia, ada batas waktu yang tidak akan pernah bisa dinegosiasikan. Karena itu berendah hatilah agar Tuhan menyayangi.

*Penulis adalah Pengamat Sosial dan Keagamaan, tinggal di Bandung