digoNEWS

IKATSI Siapkan Kongres ke-10 di Bandung, Dorong Transformasi dan Ketahanan Industri Tekstil Nasional

Selasa, 20 Oktober 2026 pukul 16.24 WIB
58 views
IKATSI Siapkan Kongres ke-10 di Bandung, Dorong Transformasi dan Ketahanan Industri Tekstil Nasional

Bagikan artikel:

DigoID, – Insan Kalangan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) akan menggelar Kongres ke-10 di Bandung, Jawa Barat, pada Juli 2027. Forum lima tahunan ini diarahkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat daya saing, mendorong inovasi, serta merumuskan langkah konkret dalam menghadapi tantangan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.

Kongres tersebut diperkirakan dihadiri ratusan peserta yang berasal dari kalangan praktisi industri, akademisi, peneliti, pelaku usaha, hingga pemangku kebijakan sektor tekstil dari berbagai daerah di Indonesia.

Pemilihan Bandung sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan industri tekstil nasional, sekaligus menjadi salah satu pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi tekstil di Indonesia.

Ketua Umum IKATSI, Ir. H. M. Shobirin F. Hamid, AT.Teks., SE., MM., mengatakan kongres mendatang tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi juga wadah untuk menyatukan pemikiran dan keahlian para profesional tekstil dalam menjawab persoalan industri nasional.

“Kongres ke-10 IKATSI di Bandung pada Juli 2027 mendatang merupakan momentum kolaborasi bagi seluruh insan ahli tekstil Indonesia. Kita menghadapi perubahan besar, baik dari sisi persaingan global, teknologi, maupun tuntutan keberlanjutan,” ujar Shobirin.

Menurutnya, industri TPT nasional harus mampu bertransformasi agar tidak hanya bertahan menghadapi tekanan pasar, tetapi juga berkembang menjadi sektor yang kompetitif dan memiliki nilai tambah tinggi.

Tantangan yang dihadapi industri tekstil saat ini semakin kompleks. Persaingan produk impor, kebutuhan modernisasi mesin, tingginya biaya energi dan logistik, ketergantungan terhadap bahan baku tertentu, serta belum optimalnya integrasi rantai pasok menjadi sejumlah persoalan yang membutuhkan solusi menyeluruh.

Pada saat bersamaan, perkembangan teknologi manufaktur, digitalisasi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan menuntut pelaku industri untuk mempercepat pembaruan proses produksi. Penguasaan teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing industri ke depan.

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk memperkuat industri tekstil berorientasi ekspor, meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal, serta mengembangkan produk tekstil dan pakaian jadi dengan nilai tambah lebih tinggi.

Dorong Penguatan Regulasi Pertekstilan

Selain transformasi teknologi, IKATSI menilai penguatan regulasi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ketahanan industri tekstil nasional.

Shobirin mendorong DPR RI menuntaskan pembahasan Undang-Undang Pertekstilan atau Ketahanan Tekstil. Menurutnya, regulasi yang komprehensif dibutuhkan untuk memberikan arah kebijakan yang lebih jelas bagi pengembangan, perlindungan, dan keberlanjutan industri TPT.

Ia menegaskan, sektor tekstil memiliki posisi strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, yakni sandang, sekaligus berperan dalam menggerakkan perekonomian dan menyerap tenaga kerja.

“Kita ingin tekstil Indonesia dikenal dan berdaya saing di pasar global, sekaligus memiliki ketahanan di negeri sendiri. Namun, hingga saat ini, kita masih membutuhkan landasan undang-undang yang secara komprehensif mengatur dan memperkuat ketahanan industri pertekstilan nasional,” katanya.

IKATSI juga menyoroti rencana pemerintah untuk membangun kembali BUMN tekstil. Shobirin mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap penguatan sektor tersebut, tetapi mengingatkan bahwa pembentukan perusahaan baru saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan industri secara menyeluruh.

Menurutnya, kebijakan yang dibangun harus mampu menghubungkan seluruh rantai nilai industri, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, penguasaan teknologi, pengembangan pasar, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Yang dibutuhkan industri TPT adalah tata kelola dan pengaturan industri nasional yang mampu melihat keseluruhan rantai nilai, dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Sebagai salah satu alternatif, ia berpandangan bahwa pembentukan Badan Pengelola Industri Pertekstilan Nasional sebagai entitas baru milik pemerintah dapat dipertimbangkan untuk memperkuat koordinasi dan integrasi kebijakan industri.

Dengan pendekatan yang menyeluruh, penguatan industri diharapkan tidak berjalan secara parsial, melainkan mampu membangun ekosistem tekstil nasional yang lebih tangguh, efisien, dan berdaya saing.

Keberlanjutan dan Digitalisasi Jadi Agenda Penting

Kongres ke-10 IKATSI juga akan menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian penting dari strategi transformasi industri tekstil.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi pengembangan serat daur ulang, efisiensi penggunaan energi dan air, pengurangan limbah produksi, pengelolaan bahan kimia, serta penerapan teknologi manufaktur yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, kemampuan mengukur jejak karbon, menerapkan Life Cycle Assessment (LCA) atau penilaian daur hidup produk, serta membangun sistem ketertelusuran bahan baku dinilai semakin penting untuk memenuhi tuntutan dan persyaratan pasar global.

IKATSI memandang keberlanjutan tidak semata-mata sebagai tambahan beban bagi pelaku usaha. Apabila diterapkan secara tepat, langkah tersebut justru dapat mendorong efisiensi operasional, membuka ruang inovasi, dan meningkatkan nilai tambah produk tekstil Indonesia.

Agenda kongres juga direncanakan mencakup digitalisasi dan otomatisasi manufaktur, sertifikasi halal produk tekstil, serta perumusan arah kebijakan untuk memperkuat industri dari hulu hingga hilir.

Dalam bidang sertifikasi halal, IKATSI melalui IKATSI Halal Center (IHC) telah menyelesaikan pendampingan dan sertifikasi halal di lima perusahaan. Sementara itu, pendampingan terhadap empat perusahaan lainnya masih berlangsung.

Forum Merumuskan Arah Baru Organisasi

Selain membahas strategi pengembangan industri, Kongres ke-10 IKATSI akan menjadi forum pertanggungjawaban organisasi, evaluasi program kerja, pemilihan kepengurusan baru, serta pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan teknologi tekstil.

Rangkaian kegiatan direncanakan meliputi seminar nasional dan diskusi panel strategis yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor TPT.

Melalui forum tersebut, IKATSI berharap terbangun kolaborasi yang lebih erat antara para ahli tekstil, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri, dan pemerintah. Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif, berbasis kajian teknis, dan relevan dengan kebutuhan industri.

Kongres ke-10 diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga menjadi pijakan untuk mendorong langkah nyata dalam memperkuat ketahanan, meningkatkan daya saing, serta mempercepat transformasi industri tekstil nasional di tengah persaingan global.

Adapun informasi mengenai pendaftaran peserta, agenda lengkap, narasumber, serta peluang kemitraan dan sponsorship akan diumumkan secara bertahap melalui saluran komunikasi resmi IKATSI menjelang pelaksanaan kongres pada Juli 2027.