Saat Gen Z Jatuh Cinta pada Lagu-Lagu 90-an: Dari TikTok ke Playlist Tengah Malam

Bagikan artikel:
DigoID, - Di sebuah kedai kopi kecil yang ramai menjelang malam, seorang mahasiswa berusia 20 tahun tampak mengetuk-ngetukkan jari di atas meja. Bukan lagu yang sedang viral minggu ini yang keluar dari pengeras suara. Bukan pula musik elektronik yang biasa menguasai lini masa media sosial.
Yang terdengar justru suara khas Duta Sheila On 7 menyanyikan, "Dan... bila esok datang kembali..." Anehnya, tak ada yang merasa lagu itu kuno.
Beberapa pengunjung ikut bersenandung tanpa melihat layar ponsel. Seorang perempuan di sudut ruangan bahkan spontan merekam suasana untuk diunggah ke Instagram Story. Di layar ponselnya tertulis, "Lagu yang nggak pernah gagal bikin nostalgia, padahal aku lahir tahun 2005."
Fenomena itu semakin sering terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Generasi Z, kelompok yang sebagian besar bahkan belum lahir ketika lagu-lagu tersebut dirilis, justru menjadi salah satu pendengar paling aktif musik era 1990-an.
TikTok dan Spotify menjadi jembatan yang mempertemukan dua generasi berbeda. Lagu-lagu lama yang sempat tenggelam kembali muncul melalui potongan video berdurasi singkat, rekomendasi algoritma, hingga playlist bertema nostalgia yang terus diputar jutaan kali.
Menariknya, banyak anak muda tidak mendengarkan lagu-lagu itu karena dorongan nostalgia pribadi. Mereka menyukainya karena musiknya terasa segar meski usianya sudah puluhan tahun.
"Lagu-lagu dulu tuh melodinya kuat. Sekali dengar langsung nempel," kata Rani, mahasiswi semester empat yang mengaku rutin mendengarkan Sheila On 7 saat mengerjakan tugas kuliah.
Ia baru mengenal band asal Yogyakarta itu dari video TikTok yang muncul secara acak di berandanya dua tahun lalu.
"Awalnya cuma lewat. Terus penasaran, akhirnya cari lagu lengkapnya. Sekarang malah masuk playlist harian," ujarnya sambil tertawa.
Di Indonesia, salah satu lagu yang paling sering muncul dalam playlist Gen Z adalah "Dan" milik Sheila On 7 yang dirilis pada 1999. Lagu tersebut seperti memiliki kemampuan langka: diterima oleh hampir semua kelompok usia.
Aransemen yang sederhana membuatnya mudah dimainkan dengan gitar akustik. Liriknya pun cukup lugas sehingga mudah dihafal bahkan setelah sekali dua kali mendengar.
Tak jauh berbeda, "Kangen" dari Dewa 19 yang dirilis pada 1992 juga terus bertahan sebagai lagu wajib saat sesi karaoke maupun tongkrongan malam. Karya awal Ahmad Dhani itu masih dianggap sebagai salah satu lagu cinta terbaik yang pernah lahir dari industri musik Indonesia.
Lagu-lagu lain seperti "Bahasa Kalbu" milik Titi DJ dan "Kisah Kasih di Sekolah" karya Chrisye juga mengalami kehidupan kedua di era media sosial.
Potongan lirik "Aku tak mengerti..." dari Bahasa Kalbu kerap menjadi latar video-video romantis dan sinematik. Sementara Kisah Kasih di Sekolah sering dipakai untuk mengiringi konten reuni, masa sekolah, hingga video kenangan bersama teman-teman lama.
Yang cukup menarik adalah kemunculan kembali "Bebas" milik Iwa K. Lagu hip-hop yang dirilis pada 1995 itu ternyata masih terdengar relevan bagi pendengar muda. Beat yang sederhana namun energik membuatnya mudah dipadukan dengan berbagai tren video pendek saat ini.
Di sisi lain dunia, fenomena serupa terjadi pada lagu-lagu Barat era 90-an.
Masuk ke hampir setiap tongkrongan anak muda yang menyediakan gitar akustik, kemungkinan besar seseorang akan memainkan "Wonderwall" dari Oasis.
Lagu yang dirilis pada 1995 itu seolah menjadi bahasa universal bagi generasi muda. Bahkan banyak pendengar yang hafal bagian reff-nya tanpa pernah sengaja mempelajari lirik secara penuh.
Sementara itu, "I Want It That Way" milik Backstreet Boys terus muncul dalam playlist nostalgia berbagai platform streaming. Lagu boyband yang sempat mendominasi akhir dekade 90-an itu kini menemukan audiens baru yang lahir bertahun-tahun setelah masa kejayaannya.
Ada pula "Smells Like Teen Spirit" dari Nirvana yang tetap dianggap sebagai simbol energi anak muda. Distorsi gitar yang agresif dan suara Kurt Cobain yang mentah masih mampu membangkitkan semangat yang sama seperti saat lagu itu pertama kali dirilis pada 1991.
Menariknya, tidak semua lagu yang digemari Gen Z berasal dari dekade 90-an secara murni. "Dreams" milik Fleetwood Mac, yang sebenarnya dirilis pada 1977, ikut menikmati ledakan popularitas baru setelah viral di TikTok global.
Lagu tersebut mendadak dikenal jutaan pengguna muda setelah muncul dalam berbagai video pendek yang ditonton berkali-kali. Banyak pendengar bahkan baru mengetahui usia lagu itu setelah mencari informasi lebih lanjut.
Menurut pengamat musik dan budaya populer, ada alasan sederhana mengapa lagu-lagu lama mampu bertahan begitu lama.
Musik era 90-an umumnya dibangun dengan fokus pada melodi yang kuat dan lirik yang mudah diingat. Struktur lagu yang tidak terlalu rumit membuatnya fleksibel untuk diaransemen ulang, baik dalam bentuk akustik, cover piano, hingga remix elektronik.
Di era media sosial, karakter seperti itu menjadi keuntungan besar.
Potongan lagu berdurasi 15 hingga 30 detik harus mampu menarik perhatian pengguna secara cepat. Lagu yang memiliki hook kuat cenderung lebih mudah menyebar dibanding lagu yang membutuhkan waktu lama untuk mencapai bagian terbaiknya.
Namun alasan terbesar mungkin bukan soal algoritma.
Di tengah derasnya arus musik baru yang datang hampir setiap hari, lagu-lagu lama menawarkan sesuatu yang berbeda: rasa akrab.
Meski belum pernah hidup di era tersebut, banyak anak muda merasa terhubung dengan cerita yang dibawa lagu-lagu itu. Tentang cinta yang tak tersampaikan. Tentang rindu yang sederhana. Tentang persahabatan dan masa muda yang terasa universal di zaman apa pun.
Malam semakin larut di kedai kopi itu. Lagu berganti dari Sheila On 7 ke Dewa 19. Beberapa orang mulai ikut bernyanyi lebih keras. Ada yang mengangkat ponsel untuk merekam. Ada yang hanya tersenyum sambil menyeruput kopi.
Tidak ada yang sedang bernostalgia karena mereka memang tidak hidup pada tahun 1990-an.
Tetapi di antara denting gelas, cahaya layar ponsel, dan koneksi internet super cepat yang menjadi bagian hidup sehari-hari, lagu-lagu dari tiga dekade lalu menemukan rumah baru.
Bukan di radio kaset atau CD yang berdebu, melainkan di playlist digital milik generasi yang lahir jauh setelah lagu-lagu itu diciptakan.
Dan mungkin di situlah letak keajaibannya. Musik yang benar-benar kuat ternyata tidak mengenal tanggal kedaluwarsa. Ia hanya menunggu ditemukan kembali oleh telinga yang berbeda, pada zaman yang berbeda pula.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





