Peternak Babi di Bali Dorong Pelaksanaan Biosecurity
Selasa, 24 Januari 2023 16:58
Reporter : Fadlan Aulia
foto: ant
DENPASAR -- Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali Ketut Hary Suyasa mendorong pelaksanaan biosecurity sebagai antisipasi masuknya penyakit African Swine Fever (ASF) atau virus Flu Babi Afrika.
"Harapan ke pemerintah agar jaga dan awasi lalu lintas ternak, perketat pemeriksaan biosecurity," katanya, di Denpasar, Bali, Senin.
Meskipun ada Peraturan Gubernur Bali Nomor 33 Tahun 2005 yang mengatur lalu lintas babi, lanjutnya, tak menutup kemungkinan penyakit ASF masuk ke Pulau Dewata.
Karena itu meskipun demam pada babi tersebut belum terdeteksi di Bali, ia tetap mendorong pelaksanaan biosecurity di tiap-tiap kandang milik peternak dan sekitarnya.
"Pengawasan terhadap lalu lintas ternak, alat angkut, dan alat tangkap itu wajib dilakukan peternak, pun juga biosecurity wajib dilakukan," ujarnya.
Ia menyebut hingga kini belum ada laporan dari peternak maupun pedagang babi terinfeksi ASF, namun ia tetap menjelaskan sebagai antisipasi bahwa penyakit ASF umumnya ditandai dari demam pada babi dan bercak merah ditemukan di telinganya.
Salah satu pedagang daging babi dan olahannya di Pasar Badung, Denpasar bernama Ketut Nonik (50) juga berharap agar pemerintah menangani isu penyakit ASF.
"Selalu ada harapan agar cepat dikembalikan kondisinya, agar isunya tidak menjadi masalah atau kendala yang di pasar, karena tetap kita berharap ke pemerintah sebagai yang bisa mengamankan dari penyakit ASF," tuturnya.
Kepada media, Nonik menyampaikan bahwa kabar adanya demam pada babi itu sudah ia dengar sejak satu minggu terakhir, namun kabar tersebut masih berhembus di kalangan pedagang dan peternak.
"Informasi dari sesama pedagang dan pemilik babi, hingga kini dagangan aman Astungkara masih jalan karena babi yang di Bali sampai sekarang belum ada bermasalah," ujarnya.
Selama ini tak ada keluhan dari pelanggan terkait daging babi yang ia jual dan ambil dari peternak di Payangan, Gianyar itu, sehingga Nonik mampu meredam kekhawatirannya.
Pedagang babi asal Gianyar itu juga selektif dalam memilih pemasok, mulai dari melihat kondisi daging dan cara kerja peternak yang sudah bagus selama ini.
Nonik mengakui bahwa harga daging babi terus naik, mulai dari Rp80 ribu per kilogram menjadi Rp85 ribu per kilogram, namun kenaikan tersebut bukan karena penyakit ASF melainkan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
"Kalau sekarang penurunan pembeli keras sejak selesai Galungan, waktu hari raya melonjak, tapi ini murni karena hari raya dan hari raya selesai juga uangnya kosong," kata dia.
Dalam sehari rata-rata daging babi yang dijualnya habis 2 ekor atau sekitar 200 kilogram sehingga ia bisa membawa pulang uang bersih mencapai Rp9 juta, dan puncaknya pada saat hari raya. (ant)