digoNEWS

Nasionalisme Indonesia Diuji Arus Globalisasi, Budaya Nusantara Jadi Benteng Identitas

Senin, 24 Agustus 2026 pukul 10.04 WIB
31 views
Nasionalisme Indonesia Diuji Arus Globalisasi, Budaya Nusantara Jadi Benteng Identitas

Bagikan artikel:

DigoID, — Arus globalisasi dinilai semakin menguji ketahanan nasionalisme Indonesia. Tantangan itu tidak lagi hadir dalam bentuk penjajahan fisik, melainkan melalui penetrasi nilai, gaya hidup, ideologi, hingga budaya populer yang masuk lewat media sosial, pasar bebas, dan teknologi digital.

Peserta Pelatihan Kader Nasional PB PMII di Jombang, Riki Ramdhan Fadilah, mengatakan kondisi tersebut berpotensi mengikis rasa bangga terhadap identitas bangsa, terutama di kalangan generasi muda.

Menurut Riki, generasi muda saat ini lebih mudah terpapar tren, narasi, dan pola konsumsi dari luar negeri dibandingkan dengan narasi kebangsaan dan kearifan lokal.

“Nasionalisme hari ini tidak lagi diuji oleh imperialisme fisik seperti masa kolonial, tetapi oleh penetrasi nilai, ideologi, dan gaya hidup global yang bekerja secara halus melalui algoritma media sosial, pasar bebas, dan dominasi budaya populer,” kata Riki.

Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebatas perubahan gaya hidup. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran sejarah dan pemahaman kebangsaan, derasnya arus globalisasi dapat membuat masyarakat semakin jauh dari akar identitasnya.

Globalisasi, kata Riki, juga berpotensi mendorong masyarakat menjadi semakin individualistis dan pragmatis. Orientasi terhadap kepentingan pasar dapat menggerus semangat gotong royong dan solidaritas sosial yang selama ini menjadi bagian penting dari karakter kebangsaan Indonesia.

Karena itu, nasionalisme tidak boleh berhenti sebagai jargon dalam seremoni kenegaraan. Nasionalisme harus menjadi kesadaran kritis yang membuat masyarakat mampu memilah pengaruh global yang membawa kemajuan dan pengaruh yang justru mengikis nilai kebangsaan.

Riki menyebut Budaya Nusantara menjadi salah satu benteng utama untuk menjaga identitas Indonesia di tengah homogenisasi budaya global. Bahasa daerah, adat istiadat, tradisi, dan kesenian dinilai bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber nilai yang membentuk karakter bangsa.

Namun, ia melihat budaya lokal masih kerap ditempatkan sebatas pelengkap pariwisata atau kegiatan seremonial. Kondisi itu membuat sebagian generasi muda merasa budaya daerah tidak lagi relevan dengan kehidupan modern.

Padahal, menurut dia, berbagai tradisi Nusantara menyimpan nilai yang masih relevan untuk menghadapi persoalan kekinian, seperti musyawarah, toleransi, keseimbangan dengan alam, dan penghormatan terhadap sesama.

“Mempertahankan identitas kebangsaan bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Justru identitas yang kuat membuat kita lebih percaya diri ketika berhadapan dengan peradaban lain,” ujarnya.

Ia mendorong penguatan pendidikan kebangsaan agar tidak berhenti pada hafalan mengenai Pancasila, sejarah, dan simbol-simbol negara. Pendidikan harus membangun kemampuan generasi muda membaca persoalan global dan nasional secara kritis melalui perspektif nilai Pancasila.

Selain pendidikan, ruang digital juga dinilai harus menjadi arena baru untuk memperkuat identitas kebangsaan. Generasi muda didorong tidak hanya menjadi konsumen konten global, tetapi ikut memproduksi konten kreatif mengenai sejarah, budaya, dan kearifan Nusantara dengan kemasan yang sesuai perkembangan zaman.

Menurut Riki, nasionalisme juga tidak akan tumbuh kuat jika ketimpangan sosial dan ekonomi dibiarkan. Kecintaan terhadap tanah air harus berjalan beriringan dengan kebijakan yang menjamin akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja.

“Rasa cinta tanah air sulit tumbuh subur di atas tanah yang tandus akan keadilan,” katanya.

Di tingkat global, Riki menilai Indonesia tidak perlu memilih antara mempertahankan identitas nasional dan membuka diri terhadap dunia. Keduanya dapat berjalan bersamaan melalui nasionalisme yang inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan.

Indonesia, menurut dia, justru harus menggunakan nilai Pancasila dan politik luar negeri bebas aktif untuk ikut menawarkan solusi terhadap persoalan global, mulai dari ketimpangan ekonomi, perubahan iklim hingga konflik geopolitik.

Pelatihan Kader Nasional PB PMII di Jombang yang diselenggarakan 22 - 26 Agustus 2026 menjadi momentum bagi para kader untuk merefleksikan kembali posisi nasionalisme di tengah perubahan global. Jombang dinilai memiliki latar sejarah keilmuan, perjuangan, dan tradisi keagamaan yang relevan dengan refleksi tersebut.

Riki menegaskan nasionalisme Indonesia bukan proyek yang selesai, melainkan proses yang terus membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

“Nasionalisme Indonesia adalah proyek peradaban yang belum selesai. Tanggung jawab kita adalah memastikan nasionalisme tidak lapuk tergerus globalisasi dan tidak pula mengeras menjadi slogan tanpa makna,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia hanya dapat berdiri kuat di tengah persaingan global jika mampu mengakar pada identitas budaya sendiri sekaligus tetap terbuka terhadap kemajuan dunia.