digoNEWS

Lagu Om Zein Viral, Dinilai Rendahkan Perempuan, Atalia: Budaya Sunda Tak Pernah Ajarkan Itu

Kamis, 2 Juli 2026 pukul 11.37 WIB
18 views
Lagu Om Zein Viral, Dinilai Rendahkan Perempuan, Atalia: Budaya Sunda Tak Pernah Ajarkan Itu

Bagikan artikel:

DigoID, - Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dibawakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein memicu polemik setelah viral di media sosial. Lirik lagu tersebut menuai kritik karena dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan dan dianggap merendahkan pengalaman biologis kaum perempuan.

Kontroversi mencuat setelah potongan lirik lagu itu beredar luas di berbagai platform media sosial. Sejumlah bagian lirik membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan dengan menyinggung kehamilan, keguguran, menstruasi hingga atribut yang identik dengan perempuan.

Alih-alih dianggap sebagai humor, banyak warganet menilai lirik tersebut justru memperkuat bias gender dan narasi patriarki yang selama ini masih menjadi persoalan di masyarakat.

Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Selanjutnya, Om Zein mengunggah video lagu tersebut melalui akun TikTok pribadinya, @omzein_bupatiaing, pada 18 Januari 2026. Meski telah diunggah sejak awal tahun, lagu itu baru belakangan menjadi perbincangan hangat setelah potongan videonya viral.

Sorotan kemudian datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Rabu (1/7/2026), Atalia mengaku tidak menemukan sedikit pun pesan yang menunjukkan penghormatan terhadap perempuan dalam lirik lagu tersebut.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia.

Menurutnya, polemik tersebut bukan sekadar persoalan kebebasan berekspresi atau selera seni, melainkan menyangkut nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.

"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah. Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan. Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tulisnya.

Atalia menilai isi lagu tersebut juga bertolak belakang dengan berbagai upaya yang selama ini dilakukan untuk menghapus budaya patriarki di Indonesia.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" ujarnya.

Di tengah derasnya kritik, Om Zein akhirnya memberikan penjelasan. Ia mengatakan lagu tersebut diciptakannya pada 2020, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Menurut Om Zein, lagu itu lahir dari refleksi atas perjalanan hidup dan perilaku pribadinya di masa lalu. Ia menegaskan tidak pernah memiliki niat untuk merendahkan ataupun menyudutkan perempuan.

"Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu, saya nakal dan bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa jaga diri," ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada siapa pun yang merasa tersinggung oleh lirik lagu tersebut.

"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu, namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," kata Om Zein.

Meski klarifikasi dan permintaan maaf telah disampaikan, perdebatan mengenai lagu tersebut masih terus bergulir di media sosial. Polemik ini berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai batas antara kebebasan berkarya, tanggung jawab seorang pejabat publik, serta pentingnya sensitivitas terhadap isu kesetaraan gender dalam ruang publik.