FOMO Jadi Senjata Utama! Media Sosial Dinilai Dorong Anak Muda Boros dan Gemar Pamer
Rabu, 03 Juni 2026 09:04
Reporter : Tim Digo.id
DigoID – Media sosial tak lagi sekadar tempat berbagi foto dan video. Di balik layar ponsel yang terus digulir, tersimpan mesin raksasa yang diam-diam membentuk cara generasi muda membelanjakan uang. Bahkan, dorongan untuk membeli barang terbaru kini sering kali muncul bukan karena kebutuhan, melainkan karena tekanan untuk terlihat sukses di dunia digital.
Fakta itu diungkapkan Antropolog Indonesia sekaligus Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, yang menilai media sosial memiliki dua wajah sekaligus: memicu perilaku konsumtif, namun di saat yang sama juga menjadi sarana penyebaran gaya hidup hemat dan literasi keuangan.
“Media sosial itu memang instrumen yang paling efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif,” kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat.
Menurutnya, media sosial telah berubah menjadi panggung besar tempat orang mempertontonkan pencapaian, status sosial, hingga gaya hidup. Fenomena ini dikenal sebagai economy of appearance, yakni kecenderungan individu menunjukkan identitas dan keberhasilannya kepada publik melalui ruang digital.
Akibatnya, muncul kompetisi tak kasat mata yang membuat banyak orang merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain.
“Media sosial itu kemudian mendorong kita membandingkan diri kita dengan apa yang dicapai orang lain,” ujarnya.
Dari nongkrong di kafe viral, liburan ke destinasi populer, hingga membeli gawai terbaru, semuanya berpotensi menjadi standar sosial baru yang terus menaikkan ekspektasi masyarakat.
Semiarto menilai kondisi ini membuat banyak orang terdorong mengikuti tren dengan cepat. Bahkan, keinginan memiliki barang terbaru sering muncul hanya karena melihat orang lain sudah memilikinya.
“Saya sudah punya HP model baru nih, kalau bisa saat itu juga saya juga punya,” katanya menggambarkan fenomena yang kini marak terjadi.
Namun di tengah derasnya arus konsumtivisme digital, Semiarto melihat munculnya perlawanan dari dalam media sosial itu sendiri. Berbagai konten tentang frugal living, pengelolaan anggaran, investasi, hingga gerakan no buy challenge mulai mendapat perhatian luas, terutama dari kalangan generasi muda yang mulai sadar pentingnya kesehatan finansial.
“Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi,” katanya.
Di sinilah peran influencer dinilai sangat menentukan. Jika selama ini banyak figur digital mendorong gaya hidup mewah dan konsumsi berlebihan, Semiarto berharap semakin banyak kreator yang mengedukasi publik tentang pengelolaan keuangan dan pentingnya hidup sesuai kemampuan.
“Kita perlu influencer yang bukan mendorong konsumsi tetapi mempromosikan financial literacy,” tegasnya.
Pernyataan Semiarto menjadi alarm bahwa perang sesungguhnya di media sosial bukan sekadar soal konten yang menarik perhatian, melainkan perebutan pengaruh terhadap cara masyarakat membelanjakan uang. Di tengah banjir tren dan pamer pencapaian, literasi finansial bisa menjadi benteng terakhir agar generasi muda tidak terjebak dalam perlombaan konsumsi tanpa akhir.
