Capsule Wardrobe Jadi Tren Anak Muda, Bikin Belanja Lebih Hemat dan Lemari Tak Lagi Penuh

Bagikan artikel:
DigoID, — Tren capsule wardrobe semakin diminati kalangan anak muda yang mulai jenuh dengan budaya fast fashion dan kebiasaan belanja impulsif. Konsep berpakaian dengan jumlah pakaian lebih sedikit namun mudah dipadupadankan ini dinilai membuat aktivitas sehari-hari lebih praktis sekaligus membantu mengendalikan pengeluaran.
Popularitas capsule wardrobe turut didorong oleh media sosial yang banyak menampilkan gaya berpakaian minimalis dengan warna-warna netral. Namun, bagi sebagian penggunanya, perubahan terbesar justru terjadi pada pola konsumsi dan cara memandang kebutuhan fesyen.
Nadia Putri (23), seorang pekerja swasta, mulai menerapkan capsule wardrobe sejak setahun terakhir. Keputusan itu muncul setelah ia merasa lemarinya penuh pakaian, tetapi tetap kesulitan menentukan outfit setiap pagi.
"Dulu saya selalu merasa tidak punya baju, padahal lemari penuh. Apalagi kalau mau pergi, rasanya harus beli baju baru," ujar Nadia.
Ia mengaku sebelumnya kerap membeli pakaian karena tergoda tren yang beredar di media sosial maupun promo belanja daring. Namun, banyak pakaian yang akhirnya hanya tersimpan di lemari dan jarang digunakan.
Kini, sebagian besar koleksi pakaiannya didominasi warna netral seperti hitam, putih, cokelat, abu-abu, dan navy. Menurutnya, jumlah pakaian yang lebih sedikit justru membuat kesehariannya lebih efisien.
"Sekarang hampir semua pakaian bisa dipadukan satu sama lain. Saya tidak lagi menghabiskan banyak waktu hanya untuk memilih outfit," katanya.
Meski demikian, proses beradaptasi tidak selalu mudah. Nadia sempat khawatir dianggap mengenakan pakaian yang sama berulang kali saat menghadiri acara sosial atau bertemu teman.
"Awalnya merasa kurang percaya diri. Tapi ternyata orang lain tidak terlalu memperhatikan. Saya malah menemukan banyak kombinasi outfit baru dari pakaian yang sudah ada," ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Raka Pratama (24), karyawan swasta yang mulai mengurangi koleksi pakaiannya setelah menyadari banyak barang yang hanya dipakai satu atau dua kali.
Menurut Raka, tren fesyen yang cepat berubah membuatnya sering membeli pakaian tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang.
"Semakin banyak pilihan, justru semakin bingung menentukan apa yang mau dipakai. Terutama saat harus bekerja setiap hari," katanya.
Ia kemudian menyederhanakan isi lemarinya dengan memilih pakaian yang lebih fungsional dan tahan lama. Kemeja polos, kaus polos, celana warna netral, serta sneakers putih menjadi kombinasi yang paling sering digunakan untuk bekerja maupun bersantai.
Selain memudahkan memilih pakaian, perubahan tersebut juga berdampak pada pengelolaan keuangan.
"Sekarang kalau mau beli baju saya berpikir dulu apakah benar-benar akan sering dipakai atau tidak. Di kondisi ekonomi sekarang, rasanya memang perlu lebih selektif," ujar Raka.
Fenomena capsule wardrobe menunjukkan pergeseran pola konsumsi fesyen di kalangan generasi muda. Alih-alih terus mengikuti tren yang berganti cepat, sebagian mulai memilih membeli lebih sedikit, tetapi dengan pertimbangan fungsi dan penggunaan jangka panjang.
Bagi Raka, konsep itu bukan berarti berhenti mengikuti perkembangan fesyen. "Bukan soal tidak boleh beli baju, tetapi lebih sadar terhadap apa yang benar-benar dibutuhkan dan akan dipakai," katanya.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





