Antisipasi Harga Beras Meledak, Bapanas Sidak Pasar di Kabupaten Bandung

Bagikan artikel:
DigoID, — Pemerintah mulai memperketat pengawasan harga dan stok beras di Kabupaten Bandung di tengah tekanan musim kemarau. Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Polda Jawa Barat turun ke sejumlah pasar dan pusat perbelanjaan untuk memastikan harga tidak menembus Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sejumlah lokasi menjadi sasaran pemantauan, yakni Pasar Sehat Soreang, Pasar Banjaran, dan Toserba Borma Soreang. Petugas mengecek langsung harga, stok, serta mutu beras sekaligus berdialog dengan pedagang mengenai kondisi pasokan.
Hasil pemantauan sejauh ini belum menemukan lonjakan harga.
Kepala Biro Keuangan, Pengadaan, dan Umum Bapanas John Hendra mengatakan harga beras di tingkat pengecer masih berada dalam batas yang ditetapkan pemerintah.
“Secara umum harga beras di tingkat pengecer masih sesuai dengan HET,” kata John.
Di Pasar Sehat Soreang, harga beras berada di kisaran Rp14.900 hingga Rp16.500 per kilogram. Sementara beras SPHP dijual Rp12.500 per kilogram.
Menurut John, harga di tingkat pemasok juga masih relatif stabil. Pedagang mendapat pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi, di antaranya Majalengka dan Cianjur, dengan harga sekitar Rp14.500 per kilogram.
“Dari bandar yang berasal dari Majalengka informasinya Rp14.500, kemudian dari Cianjur tadi Rp14.500. Jadi harga beras masih sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Kemarau Jadi Perhatian
Pengawasan dilakukan bukan tanpa alasan. Musim kemarau berpotensi menekan produksi pertanian dan pada akhirnya berimbas terhadap pasokan serta harga pangan.
Bapanas memastikan kondisi tersebut belum terlihat pada harga beras di pasar yang dipantau.
“Secara umum belum ada kenaikan,” ujar John.
Kondisi stok di tingkat pedagang juga masih dinilai aman. Petugas mendapatkan informasi bahwa pedagang masih memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan perdagangan.
Meski demikian, pemerintah menyiapkan langkah antisipasi jika pasokan mulai terganggu. Stok beras nasional yang tersedia melalui Bulog dapat digelontorkan ke pasar apabila terjadi kekurangan.
“Stoknya mereka masih cukup. Nanti kalau stok beras nasional kurang, ada teman-teman di Bulog untuk menyuplai kalau stok beras kurang di pasar,” katanya.
Harga Petani Ikut Disorot
Dalam pemantauan tersebut, persoalan yang muncul bukan hanya harga di tingkat konsumen. Pedagang juga menyampaikan masukan agar pemerintah ikut menjaga harga beras di tingkat petani.
Keseimbangan harga dari hulu hingga hilir dinilai penting. Harga yang terlalu rendah di tingkat petani berpotensi merugikan produsen, sedangkan margin yang terlalu tinggi dalam rantai distribusi dapat membuat harga di konsumen melonjak.
Bapanas menyatakan akan mengawasi rantai perdagangan tersebut.
John mengatakan koordinasi akan dilakukan mulai dari petani, bandar, grosir, pedagang hingga pengecer.
“Kami akan mencoba berkoordinasi mulai dari petani dan bandar, grosir, sampai pedagang hingga pengecer,” katanya.
Pengawasan terhadap margin perdagangan, menurut dia, diperlukan agar harga tetap terkendali dan tidak melewati HET.
“Margin di antara pelaku itu dapat kita perhatikan sehingga tidak melampaui HET yang kita tetapkan,” ujarnya.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






