Hati yang Bekerja Tanpa Libur, Tapi Sering Diabaikan

Bagikan artikel:
DigoID, - Sepiring gorengan masih hangat di atas meja. Segelas minuman dingin menyusul setelah makan siang yang serba cepat. Di akhir pekan, sebagian orang menambahkan segelas alkohol untuk melepas penat. Rutinitas kecil yang terasa biasa itu sering berlalu tanpa rasa khawatir.
Padahal, di balik kebiasaan sehari-hari tersebut, ada satu organ yang terus bekerja tanpa henti membersihkan, mengolah, dan menyaring apa yang masuk ke dalam tubuh.
Hati, organ yang letaknya tersembunyi di balik tulang rusuk itu jarang menjadi bahan obrolan. Tidak seperti jantung yang langsung terasa saat berdebar kencang atau lambung yang protes ketika telat makan, hati cenderung diam. Ia bisa mengalami kerusakan bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Prof David Handojo Muljono menggambarkan peran hati sebagai mesin utama tubuh manusia.
"Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti," kata Prof David dalam talkshow Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Selasa (2/6/2026).
Setiap hari, hati bertugas mengolah nutrisi, menetralisir racun, memproduksi protein penting, hingga membantu metabolisme tubuh. Namun kemampuan luar biasa itu bukan berarti organ tersebut kebal terhadap kerusakan.
Menurut Prof David, salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan hati adalah peradangan kronis yang berlangsung terus-menerus. Kondisi itu bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi virus hepatitis hingga perlemakan hati akibat pola makan tinggi lemak dan konsumsi alkohol berlebihan.
Masalahnya, kerusakan hati sering datang perlahan.
Awalnya, sel-sel hati mengalami peradangan. Tubuh kemudian membentuk jaringan parut sebagai respons alami terhadap kerusakan tersebut. Tahap ini dikenal sebagai fibrosis.
Pada fase awal, kondisi masih dapat diperbaiki. Hati memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa selama penyebab kerusakan segera dihentikan.
Namun ketika kebiasaan buruk terus berlanjut, jaringan parut semakin banyak terbentuk. Ruang kerja hati yang semula sehat perlahan tergantikan oleh jaringan yang tidak berfungsi.
Di titik itulah fibrosis berkembang menjadi sirosis. Sirosis bukan sekadar istilah medis yang terdengar rumit. Kondisi ini menandakan sebagian besar jaringan hati telah rusak sehingga organ tersebut tidak lagi mampu menjalankan tugasnya secara optimal.
Risikonya tidak berhenti di sana. Kerusakan yang terus berlanjut dapat membuka jalan menuju kanker hati atau hepatocellular carcinoma, salah satu jenis kanker yang memiliki tingkat kematian tinggi di berbagai negara.
"Kalau sudah sirosis berat sampai kanker hati, umumnya tidak bisa menjadi normal," ujar Prof David.
Karena itu, menjaga kesehatan hati sesungguhnya dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari. Memilih makanan yang lebih seimbang, mengurangi konsumsi makanan berlemak berlebihan, menghindari alkohol, serta meluangkan waktu untuk bergerak dan berolahraga menjadi langkah sederhana yang memberi dampak besar dalam jangka panjang.
Selain perubahan gaya hidup, vaksinasi Hepatitis B dan pemeriksaan kesehatan berkala juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Bagi banyak orang, pemeriksaan kesehatan sering ditunda karena merasa tubuh masih baik-baik saja. Padahal, hati yang sedang mengalami gangguan belum tentu mengirimkan sinyal yang mudah dikenali.
Prof David menilai sebagian besar penyakit hati sebenarnya dapat dicegah. Kuncinya adalah mengenali risiko lebih awal sebelum kerusakan berkembang menjadi kondisi yang sulit dipulihkan.
"Semakin dini kelainan ditemukan, semakin besar peluang kesembuhannya," katanya.
Sementara aktivitas harian terus berjalan, hati tetap bekerja di belakang layar tanpa suara dan tanpa keluhan. Ia tidak meminta banyak perhatian. Hanya sedikit bantuan berupa pola hidup yang lebih sehat agar bisa terus menjalankan tugasnya, hari ini, besok, dan bertahun-tahun ke depan.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya





