digoLIFE

Gen Z Makin Melek Uang, Ini Cara Mereka Atur Gaji Biar Nggak Habis di Tengah Jalan

Rabu, 24 Juni 2026 pukul 09.00 WIB
8 views
Gen Z Makin Melek Uang, Ini Cara Mereka Atur Gaji Biar Nggak Habis di Tengah Jalan

Bagikan artikel:

DigoID, - Di tengah biaya hidup yang terus naik dan godaan belanja digital yang makin sulit dihindari, generasi Z mulai mengubah cara mengelola keuangan. Mereka tidak hanya menabung, tetapi juga memanfaatkan teknologi, mengatur anggaran secara disiplin, hingga berinvestasi untuk meningkatkan kemampuan diri.

Salah satu pola yang banyak diterapkan Gen Z adalah metode penganggaran 50/30/20. Skema ini membagi pendapatan ke dalam tiga pos utama, yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau gaya hidup, dan 20 persen untuk tabungan serta investasi.

Dengan pola tersebut, kebutuhan dasar seperti biaya makan, transportasi, sewa tempat tinggal, hingga tagihan bulanan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan tujuan keuangan jangka panjang.

Di sisi lain, Gen Z juga mulai menjauhi fenomena doom spending, yakni kebiasaan berbelanja berlebihan sebagai pelarian dari stres atau kecemasan akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Tekanan FOMO atau Fear of Missing Out juga menjadi perhatian. Banyak anak muda kini berusaha membedakan antara membeli sesuatu sebagai bentuk apresiasi diri dan belanja impulsif yang hanya didorong keinginan sesaat.

Strategi lain yang banyak digunakan adalah konsep pay yourself first atau membayar diri sendiri terlebih dahulu. Caranya dengan langsung memisahkan sebagian pendapatan untuk ditabung begitu gaji atau penghasilan diterima.

Praktik ini umumnya dibantu teknologi perbankan seperti fitur auto debit atau rekening khusus yang tidak dilengkapi kartu debit agar dana tabungan tidak mudah digunakan.

Kemampuan Gen Z memanfaatkan teknologi juga terlihat dalam pengelolaan keuangan sehari-hari. Berbagai aplikasi pencatat keuangan digunakan untuk memantau arus kas, mengontrol pengeluaran, hingga menetapkan batas belanja harian.

Melalui tampilan grafik dan laporan visual di ponsel, pengguna dapat mengetahui dengan cepat ke mana uang mereka mengalir setiap bulan.

Selain mengatur pengeluaran, dana darurat menjadi salah satu prioritas utama. Idealnya, dana ini disiapkan sebesar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan dan ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan seperti tabungan atau reksadana pasar uang.

Dana darurat dinilai penting sebagai bantalan ketika terjadi kondisi tak terduga, mulai dari kehilangan pekerjaan hingga kebutuhan kesehatan mendesak.

Menariknya, tren investasi di kalangan Gen Z tidak hanya berkaitan dengan instrumen keuangan. Banyak yang mulai fokus pada investasi leher ke atas, yakni mengalokasikan dana untuk meningkatkan keterampilan, mengikuti pelatihan, sertifikasi, atau kursus yang dapat meningkatkan nilai jual di dunia kerja.

Pendekatan ini dianggap lebih relevan dengan kebutuhan generasi muda yang menghadapi persaingan kerja semakin ketat dan perubahan industri yang berlangsung cepat.

Untuk investasi dengan modal terjangkau, pilihan yang banyak diminati antara lain reksadana, emas digital, dan saham yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tren tersebut menunjukkan bahwa bagi Gen Z, mengelola uang bukan lagi sekadar soal menabung, melainkan membangun fondasi finansial yang lebih kuat melalui kombinasi disiplin anggaran, teknologi, dana darurat, dan peningkatan kapasitas diri.