digoLIFE

Gen Z dan Milenial Ubah Cara Berteman, Tak Lagi Sekadar Nongkrong tapi Harus Satu Nilai

Jumat, 26 Juni 2026 pukul 11.00 WIB
23 views
Gen Z dan Milenial Ubah Cara Berteman, Tak Lagi Sekadar Nongkrong tapi Harus Satu Nilai

Bagikan artikel:

DigoID, - Cara Gen Z dan Milenial membangun pertemanan kini berubah. Bukan lagi soal seberapa sering bertemu atau nongkrong bersama, tetapi lebih pada kesamaan nilai, kenyamanan emosional, dan dukungan terhadap kesehatan mental.

Dua generasi yang saat ini mendominasi struktur demografi Indonesia itu semakin selektif dalam memilih lingkaran pergaulan. Mereka cenderung mencari teman yang dianggap "sefrekuensi" dan mampu menciptakan hubungan yang saling mendukung.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya aktivitas pencarian teman melalui komunitas dengan minat yang sama. Platform digital seperti Lemon8, grup komunitas di media sosial, hingga Facebook Dating menjadi ruang baru untuk menemukan koneksi yang lebih relevan.

Olahraga lari, gaming, ngopi di kafe, konser musik, hingga komunitas kreatif menjadi pintu masuk utama untuk membangun relasi. Kesamaan hobi dinilai mempermudah proses perkenalan dan memperkuat kedekatan.

Selain kesamaan minat, faktor kesehatan mental menjadi pertimbangan penting. Gen Z dan Milenial cenderung menghindari hubungan yang dianggap toxic dan lebih memilih teman yang terbuka, tidak mudah menghakimi, serta mampu memberikan dukungan saat dibutuhkan.

Konsep "green flags" dalam pertemanan semakin populer. Hubungan yang sehat dinilai harus berjalan dua arah, memberi ruang untuk didengar, dan tidak menciptakan tekanan emosional.

Media sosial juga memainkan peran besar dalam proses membangun pertemanan. Banyak anak muda menilai karakter seseorang dari cara mereka berinteraksi di dunia digital, mulai dari unggahan, komentar, hingga respons terhadap isu tertentu.

Keaslian diri atau authentic menjadi nilai yang semakin dihargai. Interaksi seperti saling menandai unggahan, memberi komentar, atau membagikan konten teman sering dianggap sebagai bentuk kedekatan dan dukungan sosial.

Di sisi lain, pola pertemanan generasi muda saat ini juga ditandai dengan batasan yang lebih jelas. Mereka tidak lagi menganggap komunikasi setiap hari sebagai ukuran kedekatan.

Konsep low-maintenance friendship semakin banyak diterapkan. Pertemanan tetap bisa berjalan meski jarang bertemu atau berkabar, selama ada rasa saling memahami dan menghormati ruang pribadi masing-masing.

Kebutuhan akan me-time dan privasi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan tetap sehat tanpa menimbulkan rasa terbebani.

Budaya saling mendukung juga semakin kuat di kalangan Gen Z dan Milenial. Dukungan tidak hanya diberikan dalam bentuk emosional, tetapi juga melalui promosi karya, bisnis, atau keterampilan teman di media sosial.

Mereka cenderung ikut merayakan pencapaian teman, mulai dari kelulusan, karier, usaha baru, hingga karya kreatif yang berhasil mendapat perhatian publik.

Perubahan pola ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z dan Milenial, pertemanan bukan lagi sekadar hubungan sosial biasa. Pertemanan kini dipandang sebagai ruang aman untuk tumbuh bersama, menjaga kesehatan mental, dan membangun jaringan yang saling menguatkan.