digoTIC

Gen Z dan Milenial Tak Lagi Mudah Dipengaruhi Gimik Politik, Transparansi Jadi Tuntutan Utama

Jumat, 26 Juni 2026 pukul 10.00 WIB
47 views
Gen Z dan Milenial Tak Lagi Mudah Dipengaruhi Gimik Politik, Transparansi Jadi Tuntutan Utama

Bagikan artikel:

DigoID, - Generasi Z dan Milenial kini menjadi kekuatan terbesar dalam peta politik Indonesia. Namun berbeda dengan pemilih pada era sebelumnya, dua kelompok usia ini dinilai semakin kritis dalam menentukan pilihan dan tidak mudah terpikat oleh kampanye yang hanya mengandalkan pencitraan.

Literasi digital yang tinggi membuat Gen Z dan Milenial lebih aktif membandingkan informasi, memeriksa rekam jejak kandidat, hingga mengkritisi janji politik yang dianggap tidak realistis.

Gen Z, yang tumbuh bersama media sosial, banyak memperoleh informasi politik dari platform seperti TikTok, Instagram, dan X. Mereka cenderung menyukai konten yang singkat, visual, dan mudah dipahami, tetapi tetap mengandung substansi.

Kelompok ini juga dikenal vokal dalam menyuarakan kritik. Kampanye yang terlalu formal, kaku, atau agresif dinilai kurang efektif untuk menarik perhatian mereka.

Isu yang menjadi perhatian utama Gen Z meliputi perubahan iklim, lingkungan, kesetaraan gender, hak asasi manusia, hingga persoalan lapangan kerja dan tingginya biaya hidup.

Sementara itu, Milenial memiliki pola yang sedikit berbeda. Selain media sosial, mereka masih mengandalkan portal berita dan video panjang di YouTube sebagai sumber informasi politik.

Dalam menentukan pilihan, Milenial cenderung melihat rekam jejak, pengalaman, dan kemampuan calon pemimpin dalam menyelesaikan masalah. Mereka lebih tertarik pada diskusi yang mendalam dibanding slogan kampanye yang bersifat emosional.

Fokus perhatian Milenial juga lebih banyak berkaitan dengan kebutuhan hidup yang semakin kompleks, mulai dari stabilitas ekonomi, akses perumahan, jaminan kesehatan, hingga kesejahteraan keluarga.

Meski memiliki karakteristik berbeda, kedua generasi tersebut memiliki satu kesamaan kuat, menolak gimik kosong.

Baik Gen Z maupun Milenial menginginkan solusi konkret terhadap persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Kampanye yang hanya berisi seremoni, pencitraan, atau janji tanpa ukuran keberhasilan semakin sulit diterima.

"Kalau cuma viral tapi tidak ada program yang jelas, saya pasti cari informasi lain. Sekarang semua jejak digital bisa dicek," kata Nabila (22), mahasiswa asal Bandung yang mewakili pandangan Gen Z.

Menurutnya, isu pekerjaan dan lingkungan menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan politik.

"Yang saya cari bukan siapa yang paling ramai di media sosial, tapi siapa yang punya solusi yang masuk akal buat masa depan kami," ujarnya.

Pandangan serupa datang dari kalangan Milenial. Arif (34), seorang karyawan swasta, mengatakan rekam jejak menjadi pertimbangan utama sebelum mendukung seorang kandidat.

"Kami sudah pernah melihat banyak janji politik. Yang lebih penting sekarang adalah bukti kerja dan hasil yang bisa dirasakan masyarakat," katanya.

Arif menilai persoalan ekonomi rumah tangga, harga kebutuhan pokok, dan akses perumahan menjadi isu yang paling dekat dengan kehidupan Milenial saat ini.

Dengan jumlah pemilih yang mendominasi dalam berbagai kontestasi politik, arah dukungan Gen Z dan Milenial diperkirakan akan menjadi faktor penentu hasil pemilu. Kandidat yang mampu menawarkan program nyata, transparan, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda berpeluang lebih besar mendapatkan kepercayaan mereka.

Di tengah derasnya arus informasi digital, pertarungan politik tidak lagi hanya soal popularitas. Bagi Gen Z dan Milenial, kredibilitas, transparansi, dan solusi konkret kini menjadi mata uang utama untuk memenangkan suara.