Sultan-Sultan Jawa Timur: Dari Cat Tembok sampai Rokok, Ini Dia 5 Orang Paling Tajir Asal "Jawa Timur" yang Bikin Dompet Warganet Baper

Bagikan artikel:
DIgoID, - Guys, kalau kalian pikir sultan cuma ada di drama Korea atau di komen-komen Instagram artis, coba deh mampir ke Jawa Timur dulu. Provinsi yang terkenal sama rawon dan rujak cingur ini ternyata jadi "kandang" buat lima taipan yang total hartanya bikin kalkulator nangis. Berdasarkan data Forbes Indonesia 2025 (per Desember 2025), berikut lima nama yang wajib banget kalian tahu — no debat, ini real, bukan settingan.
1. Dato' Sri Tahir — Mayapada Group (US$9,8 M / ± Rp163 T)
Plot twist banget nih. Sebelum jadi bos Bank Mayapada, Tahir sempat gagal total jadi dealer mobil. Tapi doi nggak give up, banting setir ke bisnis garmen, terus tahun 1990 langsung gercep dirikan bank sendiri. Sekarang kerajaan bisnisnya udah nyampe perbankan, kesehatan, sampai properti. Real life "gagal itu biasa, bangkit itu keharusan."
2. Wijono & Hermanto Tanoko — Avia Avian (US$8,1 M / ± Rp135 T)
Dua bersaudara asal Malang ini jagoannya "ngecat" dompet sendiri jadi tebel. Bisnis cat keluarga yang tadinya biasa aja, di tangan mereka jadi produsen cat dekoratif terbesar se-Indonesia. Belum cukup, mereka juga ekspansi ke FMCG dan air minum kemasan. Diversifikasi level dewa emang beda.
3. Susilo Wonowidjojo — Gudang Garam (US$3,2 M / ± Rp53 T)
Anak Kediri yang namanya udah nempel banget sama rokok kretek legendaris ini. Susilo naik takhta jadi Presiden Direktur sejak 2009, gantiin sang kakak yang berpulang. Gudang Garam sendiri masih jadi salah satu saham blue-chip andalan di BEI sampai sekarang.
4. Peter Sondakh — Rajawali Corpora (US$3,1 M / ± Rp52 T)
Asalnya dari Manado, tapi udah lama "settle down" di Surabaya. Peter mimpin Rajawali Corpora, grup investasi yang portofolionya nyebar dari perhotelan, media, tambang, sampai teknologi. Definisi "jangan taruh telur di satu keranjang" banget.
5. Soegiarto Adikoesoemo — AKR Corporindo (US$1,35 M / ± Rp22,5 T)
Mulai dari dagang bahan kimia di Surabaya tahun 1960, sekarang bisnisnya udah merambah distribusi BBM, logistik, sampai kawasan industri. Bukti kalau side hustle kalau ditekunin bisa jadi kerajaan bisnis beneran.
Kenapa ini penting, guys?
Jawa Timur bukan cuma soal wisata dan kuliner — provinsi ini juga jadi salah satu lokomotif ekonomi Indonesia lewat sederet konglomerat yang bisnisnya udah teruji lintas generasi. Dari cat, rokok, sampai perbankan, kelima sultan ini ngebuktiin kalau cuan besar itu nggak instan, tapi hasil dari bisnis yang dibangun bertahun-tahun (bahkan ada yang lintas generasi keluarga).
Catatan redaksi: Angka kekayaan bersifat estimasi real-time dan bisa berubah mengikuti pergerakan pasar, sesuai metodologi Forbes.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






