digoSOK

Senja di Upakarti: Saat Ruang Pemerintah Berubah Jadi Ruang Milik Warga

Minggu, 7 Juni 2026 pukul 17.00 WIB
44 views
Senja di Upakarti: Saat Ruang Pemerintah Berubah Jadi Ruang Milik Warga

Bagikan artikel:

DigoiD, - Menjelang matahari tenggelam, langkah-langkah kecil terdengar berirama di jogging track Lapangan Upakarti, Soreang, Kabupaten Bandung.

Sejumlah anak berlarian mengejar bola, sementara para remaja duduk bercengkerama di tepi lapangan. Tak jauh dari sana, beberapa warga berjalan santai usai menunaikan salat di Masjid Agung Al Fathu.

Pemandangan seperti itu kini hampir setiap hari terlihat di jantung ibu kota Kabupaten Bandung.

Lapangan Upakarti yang berada di kawasan Kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung mengalami perubahan besar dalam satu tahun terakhir.

Ruang yang dulu identik dengan upacara resmi dan kegiatan pemerintahan kini menjelma menjadi ruang terbuka yang lebih hidup, lebih ramah, dan lebih dekat dengan masyarakat.

Bagi sebagian warga Kabupaten Bandung, Upakarti bukan tempat baru. Lapangan ini sudah menjadi bagian dari wajah kawasan pemerintahan sejak awal 1990-an.

Selama bertahun-tahun, area tersebut lebih dikenal sebagai lokasi pelaksanaan upacara kenegaraan, apel besar, hingga berbagai agenda resmi Pemkab Bandung.

Nama Upakarti sendiri diambil dari Tugu Upakarti yang berdiri di kawasan itu. Tugu tersebut menjadi simbol penghargaan, pengabdian, dan perjalanan panjang pemerintahan Kabupaten Bandung. Namun wajah lama itu mulai berubah pada akhir 2024.

Saat itu, Lapangan Upakarti ditutup sementara. Pagar proyek berdiri mengelilingi kawasan. Aktivitas warga yang biasa melintas atau sekadar menikmati suasana sekitar harus berhenti sejenak.

Pemerintah melakukan renovasi besar-besaran untuk mengubah fungsi lapangan agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Hasilnya mulai terlihat pada April 2025.

Melalui program "New Upakarti", revitalisasi lapangan diresmikan pada 21 April 2025. Wajah baru Upakarti hadir dengan rumput sintetis yang membentang hijau, jogging track yang mengelilingi kawasan, serta ikon sepasang kujang yang menjadi penanda identitas baru kawasan tersebut.

Perubahan fisik itu ternyata membawa perubahan suasana yang cukup terasa.

Jika dulu lapangan lebih sering kosong di luar agenda resmi pemerintahan, kini area tersebut nyaris tak pernah sepi. Pagi hari dimanfaatkan warga untuk berolahraga. Sore hingga malam menjadi waktu favorit keluarga, pelajar, komunitas, dan para pencari udara segar untuk berkumpul.

Keunggulan lain Upakarti adalah lokasinya yang menyatu dengan kawasan Masjid Agung Al Fathu. Perpaduan ruang publik dan kawasan religius menciptakan suasana yang khas. Banyak warga yang datang untuk beribadah, lalu melanjutkan waktu bersama keluarga di area lapangan.

Saat malam mulai turun, lampu-lampu kawasan menyala. Siluet Tugu Upakarti dan ikon kujang terlihat mencolok di tengah keramaian warga yang masih menikmati ruang terbuka itu.

Dari sebuah lapangan upacara yang dulu identik dengan aktivitas pemerintahan, Upakarti kini berubah menjadi ruang bersama. Tempat di mana warga bisa berlari, bercengkerama, bermain, atau sekadar menikmati langit sore di pusat Kabupaten Bandung.