Orang Penting VS Orang Baik

Bagikan artikel:
Oleh : Idat Mustari
DigoID, - Dalam tatanan sosial masyarakat modern, ada sebuah ambisi universal yang hampir dikejar oleh semua orang: menjadi sosok yang penting. Dihargai, dihormati, dan memiliki pengaruh besar tentu merupakan sebuah pencapaian yang positif. Namun, di tengah perlombaan mengejar status, gelar, dan validasi eksternal ini, kita sering kali melupakan sebuah esensi yang jauh lebih mendasar dan bermakna bagi kehidupan, yaitu menjadi orang baik.
Realitas sosial sering kali menunjukkan paradoks yang kontras antara kedua figur ini. Sosok yang merasa dirinya penting cenderung terjebak dalam delusi superioritas. Mereka kerap merasa diri lebih baik dari sesamanya dan memandang dunia berputar di sekeliling ego mereka. Salah satu manifestasi paling nyata dari fenomena ini dapat kita lihat dari cara menghargai waktu. “Orang penting” tidak jarang datang terlambat dalam sebuah acara, Asumsinya bahwa orang lain wajib menanti kehormatan dari kehadirannya.
Sebaliknya, orang yang benar-benar baik justru tidak pernah menyibukkan diri untuk terlihat penting. Mereka tidak haus akan panggung atau pengakuan. Ketika menghadiri sebuah undangan atau janji pertemuan, orang baik akan berusaha keras untuk hadir tepat waktu. Mengapa? Karena mereka lebih mementingkan kenyamanan, perasaan, dan waktu orang lain di atas ego pribadinya. Bagi mereka, menghargai waktu sesama adalah bentuk nyata dari memanusiakan manusia.
Ada sebuah pepatah bijak yang sangat mendalam sebagai bahan perenungan kita bersama: "Jangan merasa diri jadi orang penting, sebab bumi selalu berputar meskipun dirimu tiada. Tapi jadilah orang baik, sebab bumi selalu membutuhkanmu, bahkan menangis saat dirimu tiada."
Kutipan ini menggarisbawahi kebenaran mutlak mengenai kefanaan sebuah status. Jabatan setinggi apa pun akan ada masa purnanya. Kekuasaan sebesar apa pun akan digantikan oleh generasi berikutnya. Dunia tidak akan berhenti berfungsi hanya karena satu orang penting kehilangan takhtanya. Namun, jejak kebaikan yang ditanam oleh seseorang di hati sesamanya akan terus hidup, melintasi sekat waktu, bahkan tetap harum ketika jasadnya sudah menyatu dengan tanah. Bumi tidak menangisi hilangnya pangkat, melainkan hilangnya ketulusan.
Lebih jauh lagi, status "orang penting" itu sebenarnya bersifat sangat semu dan transaksional. Sesungguhnya, seorang figur penting akan seketika menjadi tidak penting jika kita tidak lagi memiliki kepentingan atau urusan dengannya. Ketika sebuah hubungan didasarkan pada asas manfaat materi atau kekuasaan, maka kehormatan itu akan lenyap begitu manfaatnya habis.
Sebaliknya, magnet dari seorang orang baik bersifat universal dan permanen. Kebaikan tidak mengenal batas kepangkatan atau asas manfaat. Orang baik dicari bukan karena apa yang bisa mereka berikan secara materi, melainkan karena kedamaian, ketulusan, dan rasa aman yang mereka hadirkan di lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita masing-masing. Mengejar reputasi sebagai orang penting tidaklah salah, selama itu digunakan untuk menebar kemaslahatan. Namun, jika harus memilih satu identitas yang paling melekat hingga akhir hayat, pilihlah untuk menjadi orang baik. Sebab pada ujung hari nanti, dunia tidak kekurangan orang pintar atau orang penting, melainkan sangat merindukan kehadiran orang-orang baik yang tulus merawat kemanusiaan. Dan pasti orang baik akan dikenang saat ketidak adaanya. Orang baik akan jadi cerita setelah kepergiannya.
**Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris BUMD kab Bandung
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






