Kacamata Pintar Meta Masuk Indonesia 11 November, Harga Mulai Rp 8 Juta, Privasi Jadi Sorotan

Bagikan artikel:
DigoID, - Kacamata pintar Meta yang bisa merekam video dan suara tanpa harus menggunakan kamera ponsel segera masuk Indonesia. Namun, di balik kemudahan merekam secara hands-free, perangkat ini menyimpan risiko privasi karena orang di sekitar pengguna belum tentu menyadari dirinya sedang direkam.
Kacamata pintar Ray-Ban Meta dan Oakley Meta dijadwalkan mulai dijual di Indonesia pada 11 November 2026 dengan harga mulai Rp 8 juta.
Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengingatkan kemampuan merekam melalui perangkat yang bentuknya menyerupai kacamata biasa berpotensi disalahgunakan untuk mengambil gambar atau suara orang lain tanpa sepengetahuan mereka.
"Hal ini bisa menjadi pelanggaran privasi dan hal ini harus disadari oleh pembeli dan pengguna kacamata Meta ini," ujar Alfons kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/11/2026).
Menurut Alfons, desain kacamata pintar yang menyerupai aksesori sehari-hari membuat perangkat tersebut menarik sekaligus membuka celah penyalahgunaan.
Pengguna bisa merekam lingkungan sekitar tanpa perlu mengeluarkan ponsel atau terlihat sedang mengarahkan kamera. Situasi ini berpotensi memicu persoalan ketika orang yang menjadi objek rekaman tidak mengetahui aktivitas tersebut.
Meta sebenarnya telah menyematkan lampu LED sebagai penanda ketika kacamata sedang merekam video.
Indikator tersebut dirancang agar orang di sekitar pengguna mengetahui bahwa perangkat sedang mengambil gambar.
Namun, Alfons menilai keberadaan lampu indikator tidak otomatis menghilangkan risiko pelanggaran privasi.
Ia mengingatkan, penanda tersebut berpotensi disamarkan atau ditutup oleh pengguna yang berniat merekam secara diam-diam.
"Hal inilah yang harus menjadi perhatian," jelasnya.
Risiko tersebut menjadi penting karena perekaman tidak hanya menyangkut gambar, tetapi juga suara dan percakapan orang di sekitar pengguna.
Jika fitur tersebut digunakan tanpa mempertimbangkan hak privasi orang lain, pengguna bisa menghadapi gesekan sosial hingga persoalan hukum.
Meski memiliki risiko, Alfons mengakui kacamata pintar menawarkan manfaat bagi pengguna.
Perangkat ini memungkinkan seseorang merekam aktivitas tanpa harus memegang ponsel atau mengoperasikan kamera secara langsung.
Kedua tangan tetap bebas sehingga pengguna bisa membuat konten sambil melakukan aktivitas lain.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu daya tarik kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), terutama bagi pengguna yang membutuhkan perangkat praktis untuk dokumentasi dan pembuatan konten.
Namun, kemudahan itu perlu diimbangi kesadaran bahwa orang lain di sekitar pengguna juga memiliki hak atas privasi mereka.
Kacamata pintar Meta merupakan perangkat berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Untuk pasar Indonesia, Ray-Ban Meta akan menghadirkan koleksi generasi ketiga atau Ray-Ban Meta (Gen 3) dalam tiga desain, yakni Wayfarer, Aviator, dan Zena.
Sementara itu, lini Oakley Meta akan tersedia dalam varian HSTN dan Vanguard.
Kedua lini tersebut dijadwalkan mulai dipasarkan pada 11 November 2026 dengan harga mulai Rp 8 juta.
Kehadiran perangkat ini membuka pilihan baru bagi konsumen yang ingin mengakses teknologi AI dan merekam aktivitas secara praktis.
Namun, persoalan privasi menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan, terutama ketika teknologi perekaman semakin sulit dibedakan dari aksesori biasa.
Di tengah kemudahan tersebut, pengguna tetap perlu memahami batas penggunaan perangkat agar tidak menjadikan kenyamanan merekam sebagai alasan untuk mengabaikan privasi orang lain.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






