7 Cara Gen Z Atasi Bad Mood, dari Digital Detox hingga Silent Walking, Ampuh Cegah Burnout

Bagikan artikel:
DIgoID, - Cara Gen Z mengatasi bad mood kini semakin beragam. Tak lagi sekadar rebahan atau bermain media sosial berjam-jam, banyak anak muda memilih melakukan digital detox, silent walking, hingga menulis jurnal untuk menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.
Tren ini semakin kuat di tengah tingginya tekanan pekerjaan, kuliah, dan derasnya arus informasi di media sosial yang kerap memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional.
Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah mengonsumsi konten hiburan di platform digital. Video lucu, konten estetik, hingga tayangan oddly satisfying seperti menghias kue atau memotong sabun menjadi pelarian singkat yang mampu mengalihkan pikiran dari tekanan sehari-hari.
Selain visual yang menenangkan, banyak Gen Z dan milenial juga mengandalkan ASMR atau sound bathing. Suara bisikan, ketukan, hingga gelombang suara tertentu dipercaya membantu tubuh lebih rileks sehingga suasana hati perlahan membaik.
Di luar dunia digital, tren silent walking semakin digemari. Berjalan santai di taman atau ruang terbuka tanpa mendengarkan musik dan tanpa melihat ponsel dinilai membantu melatih mindfulness serta memberi waktu bagi otak untuk beristirahat dari berbagai distraksi.
Bagi pencinta hewan, bermain bersama kucing atau anjing juga menjadi terapi sederhana. Aktivitas ini diketahui mampu memicu pelepasan hormon kebahagiaan yang membantu menurunkan tingkat stres.
Kesadaran untuk membatasi penggunaan media sosial juga terus meningkat. Banyak anak muda mulai melakukan digital detox dengan mematikan notifikasi atau menjauh sementara dari berbagai platform agar tidak terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Cara lain yang tak kalah populer adalah journaling. Menuliskan isi pikiran, rasa syukur, maupun afirmasi positif menjadi media untuk mengekspresikan emosi sekaligus membantu meredakan kecemasan.
Saat tekanan semakin berat, berbagi cerita dengan sahabat tetap menjadi pilihan utama. Curhat kepada orang yang dipercaya dinilai mampu mengurangi beban psikologis sekaligus memberikan dukungan emosional.
Tak sedikit pula yang memilih memperbaiki suasana hati melalui wisata kuliner atau menikmati comfort food. Kopi favorit, makanan manis, hingga hidangan yang mengingatkan pada masa kecil sering menjadi pilihan untuk mengembalikan semangat.
Para ahli mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental sebaiknya dilakukan sebelum stres berkembang menjadi burnout. Salah satu langkah yang disarankan adalah menjadwalkan waktu istirahat secara rutin, membatasi jam kerja, serta memisahkan urusan pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Meningkatnya tren ini menunjukkan perubahan cara pandang Gen Z dan milenial terhadap kesehatan mental. Merawat suasana hati kini bukan lagi dianggap sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan agar tetap produktif, sehat, dan mampu menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Artikel Terkait
Baca juga artikel menarik lainnya






